Jumat, 08 April 2011

Saling Mengampuni (Matius 6:14-15, 18:21-35)

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

1.      Matius 6:14-15 masih masuk dalam rangkaian Doa Bapa Kami. Dalam doa yang berbunyi demikian, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni, maka Bapamu juga tidak akan mengampunimu.” Sebelum seseorang mengucapkan doa ini pertama kali yang harus ia sadari adalah keberdosaannya. Apa itu dosa? Perjanjian Baru menggunakan 5 kata yang berbeda untuk dosa, kita akan periksa:

a)      Kata yang paling umum dipakai adalah hamartia.  Hamartia berarti gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukan…”we are not what we should be” itulah hamartia.

b)      Kata yang kedua adalah parabasis yang berarti melangkah dari garis batas antara yang benar dan yang salah…tidak taat (disobeyed)…melanggar (Matius 15:2)

c)      Kata yang ketiga adalah paraptoma yang berarti tergelincir, berbeda dengan parabasis yang memang disengaja melangkah dari sisi yang benar menuju sisi yang salah. Paraptoma ini mirip seperti orang yang terpeleset…tergelincir di jalan atau lantai yang licin…tidak disengaja. Dalam konteks ini, kita seringkali tergelincir dalam dosa karena keinginan-keinginan kita.

d)      Kata keempat adalah anomia  yang berarti kejahatan (to live lawlessly). Artinya, seseorang tahu mana yang benar dan mana yang salah namun masih tetap melakukan yang salah itulah anomia.

e)      Kata kelima adalah opheilema yang dipakai dalam doa bapa kami (Matius 6:12) yang berarti kegagalan untuk membayar suatu kewajiban…sesuatu yang memang harus dibayar. Menurut Barclay, tak seorang pun yang mengklaim diri sebagai orang yang mampu membayar kewajibannya pada Tuhan dan sesama dengan sempurna. Ini berarti Anda dan saya juga seringkali gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Dengan melihat lima kata yang diterjemahkan dosa, setidaknya kita memiliki gambaran tentang apa itu dosa…

2.      Jika kita melihat Matius 6:14-15, kita akan segera menjumpai fakta bahwa ayat 14-15 adalah penekanan dari ayat 12.  Ayat 12, “Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”, sedangkan di ayat 14-15, Yesus membuat ayat 12 semakin jelas maknanya, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni, maka Bapamu juga tidak akan mengampunimu”,artinya: ketika kita mengucapkan doa ini namun pertengkaran kita dengan orang lain belum selesai dan kita menolak untuk memaafkan dan minta maaf…maka kita dengan sengaja menolak pengampunan dari Tuhan. Jika kita mengatakan, “aku tidak akan pernah memaafkannya…tidak akan pernah memaafkan apa yang sudah dia lakukan padaku…aku juga tidak akan melupakan apa yang sudah dia lakukan padaku” dan kita mengucapkan formula doa tersebut atau kita doa minta pengampunan dari Allah dengan bahasa kita sendiri, maka sebenarnya kita tidak meminta pengampunan dari Allah.  Ada keterkaitan antara pengampunan dosa dari Allah dan pengampunan kita pada sesama…hal ini tidak dapat dipisahkan(dan nampaknya ini yang akan diperjelas link-nya di Matius 18:21-35). Jika kita mengingat makna ini, maka berhati-hatilah tatkala meminta pengampunan dari Allah…tanyakan pada diri sendiri apakah kita sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita?

3.      Matius 18:21-35 adalah bacaan kedua yang masih menyuarakan tema:saling mengampuni.  Diawali dengan percakapan antara Petrus dan Yesus, Petrus menyadari bahwa urusan mengampuni itu tidak sederhana…tidak mudah, oleh sebab itu dia bertanya pada Yesus berapa kali dia harus mengampuni orang lain? Dia mengusulkan tujuh kali mengampuni orang lain sebab para rabi mengatakan cukup tiga kali mengampuni orang lain [1]. Tetapi Yesus menjawab tidak hanya tujuh kali namun tujuh puluh kali tujuh kali…artinya, “go on and on and on forgiving”…mengampuni itu tidak ada batasnya! Lalu Yesus mengisahkan sebuah perumpaan tentang seorang raja yang melakukan perhitungan hutang-hutang dengan hamba-hambanya (ayat 23-35).  Setelah melakukan perhitungan, diketahuilah bahwa ada seorang hamba yang memiliki hutang 10.000 talenta. Talenta adalah satuan mata uang yang paling tinggi nilainya pada waktu itu. Nilai dari 1 talenta adalah 6000 dinar (jika bahan talenta perak, jika emas maka sama dengan 30 x 6000= 180.000 dinar…jadi tergantung bahan pembuatnya). Dinar adalah mata uang yang diterima oleh pekerja harian dalam satu hari. Sahabat anak mengusulkan jika dikurskan dengan mata uang saat ini dengan pengandaian bahwa upah pekerja dalam satu hari Rp.50.000 maka 1 talenta=6000 x Rp.50.000 = Rp. 300.000.000 jadi hutang hamba itu Rp.300.000.000 x 10.000= Rp. 3.000.000.000.000 (tiga triliun rupiah). Entah butuh berapa tahun atau puluh tahun bagi hamba tersebut untuk bisa melunasi hutangnya. Dan hamba ini semestinya bersyukur karena seluruh hutangnya telah dihapuskan oleh sang raja. Dalam cerita selanjutnya (ayat 28-30) hamba ini bertemu dengan temannya yang berhutang 100 dinar kepadanya. 100 dinar x Rp. 50.000 = Rp. 5.000.000…tak sebanding dengan hutangnya pada raja tadi. Namun si hamba ini justru mencekik dan memaksa temannya untuk melunasi hutangnya.  Dan akhir kisah, si hamba justru menerima hukuman dari sang raja. Cerita ditutup dengan pernyataan Yesus, “Maka Bapa-Ku yang di Sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”. Dari perumpamaan ini kita dapat belajar bahwa seringkali kita tidak sadar dengan kesalahan yang sudah kita perbuat tapi justru dengan sangat mudah kita melihat kesalahan yang teramat besar pada diri orang lain. Alih-alih memaafkan orang lain kita justru mencecar bahkan memilih untuk tidak akan pernah memaafkan. Padahal Allah sudah terlebih dahulu mengampuni kita…ingat, ada keterkaitan antara pengampunan yang Allah berikan dengan pengampunan yang kita berikan pada orang lain.

4.      Ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk belajar mengampuni:

a)      Belajar memahami mengapa orang lain menyakiti kita. Selalu ada alasan mengapa orang lain menyakiti kita. Jika orang lain berlaku tidak sopan, marah, penuh kecurigaan, dan membenci kita barangkali orang tersebut sedang terluka…kawatir…salah paham..dan bahkan mungkin orang tersebut sebenarnya adalah korban dari lingkungan di sekitarnya sehingga temperamennya sangat negatif…mungkin juga karena dia dirundung masalah yang berat dan memiliki masalah dalam relasi sosial. Selalu ada alasan mengapa orang lain menyakiti kita. Memaafkan…mengampuni terasa lebih mudah tatkala Anda dan saya memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi…daripada mengutuki dan menyimpan rasa sakit itu.

b)      Kita belajar untuk melupakan. Sepanjang kita masih mengingat-ingat apa yang sudah terjadi yang ada hanyalah rasa sakit dan tidak ada harapan bagi kita untuk bergerak mengampuni orang tersebut. Seringkali kita berkata, “aku tidak bisa melupakan apa yang sudah dia lakukan padaku!”, dengan mengucapkan kalimat semacam ini kita sedang menutup pintu kemungkinan untuk mengampuni orang tersebut.

c)      Kita belajar untuk mengasihi…menerima orang yang sudah menyakiti kita dan memperlakukannya sebagai sesama kita.

Selamat mengampuni……



[1] Green, Michael. The Message of Matthew-The Kingdom Of Heaven. Inter-Varsity Press, 2000. P.197

Tidak ada komentar:

Posting Komentar