Minggu, 28 Februari 2016

Bliss of Bandung

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan lagu Mocca tentang kota Parisj Van Java, begini syairnya:
There's a little city covered with hills and pleasant weather
come on baby i'll show you around
in my little town every corner tells you different stories
there's so many treasures to be found
welcome to flower city
my lovely city
roses blooming pretty
people say that home is where the heart is
it's a place with so much history 
friendly Bandung city
holds the past of ancient glories
and a thrilling future mystery 
welcome to flower city
my lovely city, my friendly city, my beloved city
even though it gets so over crowded
when i'm sitting in my car that stuck for hours
but i love it anyway
welcome to flower city...

Dari syairnya sambil menutup mata, Bandung memang memesona dalam segala sisinya. Tetapi di bait ke dua? Mocca sedikit menguak sisi lain Bandung yang rajin macet terlebih di akhir pekan. Walaupun ia menikmati kemacetan itu dari dalam mobilnya, bagaimana jika ia merasakan macet di angkutan umum? hahahaha :D mungkin bakal ada bait ke-3!

Di dalam kendaraan umum saya menikmati parade busana dan parade ekspresi ketika si Flower city mulai macet. Ada yang  berdandan habis-habisan lengkap dengan bulu mata anti badai, sayangnya tak anti macet. Ada yang senyam-senyum menatap layar gawainya, barangkali dia sedang mengalihkan fokus dari kemacetan ke sesuatu yang menyenangkan di dunia maya sana. Ada yang menutup kuping mendengarkan musik. Ada yang cemas bolak balik menatap jam. Ada yang kipas-kipas kuatir kalau make up luntur karena sauna ala angkutan umum.  Ada yang melamun. Ada yang sibuk mengunyah, sayangnya kecepatan mengunyah berbanding terbalik dengan kecepatan angkutan umum bergerak.

Melihat mereka saya bertanya-tanya apakah mereka BAHAGIA tinggal di Bandung yang rajin macet? Jalanan di Bandung menjadi catwalk bagi warganya yang melek fashion dan merasa harus terupdate secara kontinyu. Melihat mereka saya bertanya, "Apakah kalian BAHAGIA tinggal di Bandung? Sebahagia tampilan kalian yang semarak?"

Teringat pertanyaan seorang kawan, "Dee, are you happy in Bandung?" Pertanyaan yang sulit dijawab atau mungkin saya mesti mengikuti Eric Weiner yang melakukan riset tentang kebahagiaan hahahaha. Sebab sebagian tentu sepakat bahwa kebahagiaan itu sulit diukur dan sulit didefinisikan atau memang tak bisa diukur dan didefinisikan ya? Atau jangan-jangan kurangnya komitmen alias satu kaki masih di luar pintu, kurang berani mengatakan bahwa "ya ni rumah saya", "ya saya bahagia tinggal di sini saat ini.". entahlah....

Well kalau mau mencari-cari hal yang bikin tidak bahagaia selama tinggal di Bandung, ah barangkali ada saja daftarnya selain macet. Tetapi pada akhirnya saya sadar, bahwa KEBAHAGIAAN itu bukan soal unsur-unsurnya tetapi bagaimana unsur-unsur itu ditata dalam proporsi tertentu. Ya seperti yang dilakukan pak walkot Bandung sekarang. Dan ya itulah Bandung...my flower city, my friendly city.

Di balik kemacetannya, dan sikap sebagian orang yang belum bisa menjaga kebersihan fasilitas umum, Bandung itu rumah bagi sebagian besar orang. Terlepas dari apapun alasan mereka untuk tinggal di sini.

Dan...ketidaksempurnaan Bandung menantang saya untuk menciptakan ruang bagi ketidaksempurnaan dalam hidup saya. Berdamai dengan segala kontradiksinya, realitanya dan menikmatinya. Bandung dengan segala kontradiksinya itu dan gerak-geriknya yang masih menggoda dan masih terus bersolek diri. Ya, di suatu tempat, di jagat raya ini, seseorang telah diberi sejumput waktu....sayalah orang itu...kitalah orang itu. Ini adalah waktu untuk berbahagia di kota dimanapun kita berada :D

Yohana defrita rufikasari
Bandung, 2016

I Learn...

With you A, I learn that intimacy is not who you let to hug you but
who you call at 1.20 am just to tell how you miss someone badly...and you did it last night.
even without word "miss".
I learn that intimacy is the person that always in the back of your mind,
no matter how distracted and busy you are
by sending you every little things that reminds you about that person...or just by saying, "I'm following you, go ahead, tell me more." Though I know you were busy at that moment :D
and A, you did it, everytime...just to teach me to trust and walk again...
thank you :D

Tangan Mungil

Ketika tangan mungil itu memelukmu erat dan rapat sampai tak ada tempat
kau tahu hatimu hidup dan berdegup
ketika mata kecil itu menatapmu berbinar
seakan kau malaikat yang baru ia jumpai hari ini
sekacau apapun penampilanmu
kau tahu hatimu diajaknya menari
ketika mulut kecil itu tersenyum melihatmu
menyapamu dengan bahasa tanpa aksara itu
kau tahu hatimu menemukan jalan pulang
Tangan, mata dan mulut kecil itu
membuatmu memahami arti cinta yang paling sederhana
yang bisa dipahami hati manusia
menerima tanpa beban
memeluk dengan riang
menggandeng perbedaan
mencintai segala ciptaan
betapa indahnya hati yang kecil ini :)

Yohana defrita rufikasari
Bandung, februari 2016
*sedang dipeluk Benneth (4 years old)

Bahasa Tanpa Aksara

Ada bahasa tanpa aksara,
yang dengannya kamu tak merasa hampa.
Ada bahasa tanpa bunyi,
yang kamu pahami tanpa merasa sunyi.
Bahasa yang hanya bisa dipahami hati...
Maka ketika duduk bersamamu dalam diam
sesungguhnya ada banyak yang sedang kita bicarakan
yang membuat hati menjadi penuh tanpa merasa jenuh
Menjadi teduh walaupun di luar sana kendaraan dan suara berpacu gaduh
Terima kasih  A sudah membawaku pada level percakapan yang lain!

Yohana Defrita Rufikasari
Bandung, 2016

DAN TENTANG KETIDAKSUKAAN...

Ketidaksukaan seseorang pada orang lain memang bisa membuat orang berbuat apa saja. Mencari-cari kesalahan orang lain, menciptakan suasana "tertekan" untuk orang yang tidak disukai, membuat rumor yang disebar secepat angin berhembus, menjegal dari yang terang-terangan sampai di belakang punggung.

Tapi,
memadamkan cahaya orang lain, tidak akan pernah membuat kita lebih terang daripada orang lain. Justru akan membuat gelap semakin nyata. Dan membuat pandangan mata terbatas lalu gulita.

Lilin yang memberikan sinarnya, tak pernah merasa tersaingi ketika ia berbagi cahaya terang dengan lilin yang lain. Maka daripada sibuk menguras energy dan emosi memadamkan cahaya orang lain, cobalah berbagi cahayamu dengan yang lain agar lebih terang sekitarmu, lebih terang dirimu memandang dunia :)

Yohana Defrita Rufikasari
Bandung, 27 Februari 2016
10.32 am

HIJRAH-surat untukmu yang tak lelah berjuang agar "pintu" itu dibuka :)


Hai,
mungkin saat kau membaca surat  ini, kau sudah tiba di stasiun itu malam hari. Tapi tentu sebelum kau pulang mengayuh sepedamu :) Bacalah selagi sempat...

Kemarin kau membagi sebuah tautan berita tentan "pintu" yang masih tertutup dan Walikota mu yang berlagak dagelan. Selain menerbitkan gelak tawa demi membaca kebodohan yang terang benderang, aku tahu, perjalananmu dan teman-temanmu masih jauh. Mungkin ini memang sebuah jalan panjang atau istilah Pak Tjokroaminoto, "hijrah" untuk membangun sebuah "rumah" yang menjadi tempat berteduh anak-anak dari berbagai macam latar belakang dan kondisi bahkan orientasi seksual.

Membangun Indonesia menjadi "rumah" tanpa kekerasan dimana semua warna diterima dan diberi tempat bahkan didengarkan, mimpi yang gila barangkali. Tetapi, aku percaya kekuatan mimpi, sebab mimpi-mimpi itu diletakkan di tangan-Nya dan Dia memeluk mimpi-mimpi kita :)

Oya, aku teringat sebuah film besutan Garin Nugroho tahun 2015 tentang Pak Tjokroaminoto seorang guru bangsa. Apa? Film sejarah? Iya, walaupun mungkin banyak yang menyangsikan keabsahannya tetapi sejarah memang bisa punya banyak versi dan konon katanya tergantung pada siapa yang memimpin. Dari jaman Raja Daud juga gini kok.

Tetapi aku kira, Garin Nugroho tak hendak mengambil alih tugas guru sejarah walaupun ia menggunakan data sejarah. Maka menyaksikan film berdurasi nyari 3 jam ini aku menyaksikan sebuah "hijrah" dan "rumah", ya another "aha" moment.

Hijrah yang dilakukan oleh Tjokroaminoto bukan sekedar hijrah "besar" demi nasib Tanah yang ia cintai sampai sumsum. Walaupun awalnya sih memang begitu. Namun pada akhirnya dia menyadari bahwa batinnya pun sedang melakukan hijrah.

Berkali-kali ia bertanya pada Agus Salim sudah sampai di mana hijrah besarnya. Jawaban Agus Salim membuat aku tercekat, katanya, "Mungkin hijrah kita sampai di Arafah, sepi dan kita butuh bimbingan Allah." Teduh sekali jawaban lelaki ini.

Sekilas lalu memang bisa jadi kita bertanya-tanya, "Apa sih hasil dari hijrah yang dilakukan Tjokroaminoto? Film ini tak menjawab lugas. Tetapi film ini membawa perenungan setidaknya buat aku.

Ada hijrah besar yang kita lakukan demi sesama. Namun dalam hijrah besar itu sesungguhnya kita juga sedang melakukan hijrah kecil. Perjalanan batin sendiri. Mungkin tak dapat terlihat hijrah ini sampai di mana, mau kemana, akan seperti apa nanti.

Dalam hijrah itu terkadang aku dan kamu diijinkan merasa sepi dan tak seorangpun memahami. Sebab dalam kesunyian hijrah, sejatinya kita sedang menajamkan telinga dan mendengar desir suara-Nya.

Kau tahu? Tjokroaminoto memutuskan bahwa hijrahnya kali ini adalah pulang ke rumah. Pulang kepada anak-anak dan istrinya. Rumah yang dibangun dengan idealism "rumah bersama, rumah sesama" dimana kekerasan tak boleh masuk ke dalamnya. Sekacau apapun kau di luar sana, jangan bawa kekerasan ke dalam rumah. Sebab ia tempatmu berpulang. Sebesar apapun gagasanmu, jangan hancurkan rumah sesamamu.

Rumah bukan semata tempat kita tinggal tetapi Negara ini adalah rumah. Pertanyaanku pada diri sendiri, "Apakah Negara sudah menjadi rumah bagi anak-anaknya? Rumah tanpa kekerasan? Apakah Indonesia dapat menjadi rumah bagi semua dan sesama? Tempat anak-anak bangsa pulang dan berlindung?

Di dalam penjara, Tjokroaminoto menuliskan pergulatan batinnya dan upayanya berdamai dengan jalan hidupnya, sebab bisa jadi hijrahnya hanyalah dari penjara ke penjara demi merenungkan makna perjuangan bagi kebebasan sesama dan, "Apakah aku masih di Kiblat-Mu, ya Allah?"

Perjalanan Tjokroaminoto mewujudkan impiannya memang tak mudah. Begitu pula impian untuk Indonesia rumah bagi semua dan sesama. Hijrah yang dilakukan Tjokroaminoto sering membawanya melewati gurun sunyi. Barangkali hijrahmu untuk membuka pintu itu membawamu pada sepi.

Tetapi jangan remehkan impian. Hijrah itu dimulai sekarang. Sesepi apapun hijrahmu agar pintu itu terbuka, bertanyalah, "Tuhan apakah kami masih di Kiblat-Mu? Tuhan, apakah kami masih bersama-Mu?"

Aku sudahi surat ini, kayuhlah sepedamu :)

untukmu yang mungkin masih di Arafah dalam sunyi dan doa perjuangan untuk "pintu" yang terbuka :)

BROKEN ROAD

Kalau jalinan kisah hidup manusia diibaratkan seperti rajutan yang suka dibikin oleh partner in crime saya, maka jalinan benang-benang halus warna-warni itu sudah mempertautkan saya dengan perempuan-perempuan hebat. Jalinan benang-benang ini berupa kata, tawa, air mata, doa dan juga cinta.

Obrolan bersama mereka ini acapkali membuat saya bercermin diri. Di satu atau dua titik, saya dan kalian pernah salah jalan. Pernah begitu gegabah terdorong ego yang buncah menggambil langkah dengan pongah. Menolak mendengarkan suara diri sendiri, terus melangkah walau perih. Di satu atau dua titik kita pernah sama-sama menjadi gagu dan terduduk sayu berteduh. Menggenggam kompas yang sudah rusak. Tanpa menyadari bahwa seluruh semesta sedang menyampaikan pesan-Nya. Mungkin karena saya dan kalian terlalu gaduh...

Iya, kita pernah sama-sama seperti itu. Tetapi kita bukanlah "salah kedaden", kita bukan "produk gagal" dan jalan-jalan yang pernah kita ambil dan kita (orang lain juga) kutuki karena dianggap salah, orang-orang yang hilir mudik dan menyisakan luka kita anggap kesalahan, rupanya tidak begitu, setidaknya bagi Dia.

Seorang sahabat sekaligus adik berkelakar, "Jangan takut salah jalan Kak!" Ya Tepat! Jangan takut melangkah, jangan takut salah jalan. Jalan-jalan yang kita beri label "broken road" entah karena pengalaman buruk di "jalan" itu, bukanlah broken road sebab Dia punya banyak cara untuk membawa kita pulang ke diri sendiri, ke pelukan-Nya.

Bahkan, orang-orang yang pernah berkontribusi membuat hati kita remuk dan sakit, mereka adalah berkah. Berkah sebab kehadiran mereka seperti bintang utara yang membuat kita menengadah kepada-Nya. Tak hanya sibuk merutuki badai yang mengamuk hebat di dalam hati, tetapi mencari Dia Sang Penuntun Abadi! Bukankah para pelaut handal akrab betul dengan sosok bintang utara yang membawa mereka pulang, ke luar dari badai mengerikan.

Pengalaman-pengalaman hidup yang bikin kita jungkir balik bak atraksi tong setan di pasar malam, adalah kepingan-kepingan puzzle dari rencana besar-Nya. Yang mungkin belum bias kita cerna sekarang. Perjuangan-perjuangan yang makin lama makin jauh panggang dari api, bisa jadi melemahkan hati bahkan menyiutkan nyali. "Broken road" bisa berupa apa saja dan siapa saja.

Sekalipun belum kelihatan hasilnya, terus melangkah, sekecil apapun langkah yang kita buat, bahkan mungkin jinjit, atau ngesot, terus maju. Sambil menajamkan hati untuk membaca petunjuk dan mendengar suara-Nya.

Maka kalau sekarang sebagian memilih berteduh dulu, tak mengapa, sebab kadangkala kita perlu mekihat jalan yang "broken road" itu dengan hati yang teduh. Kabar baiknya, Dia paham kok bahwa kita butuh waktu untuk memulai langkah yang baru.



Yohana Defrita Rufikasari
Bandung, Februari 2016

GNOTHI SEAUTON

Dua puluh lima abad yang lalu, Socrates mengatakan, "Gnothi seauton" yang artinya, "Kenali dirimu." Sebuah kata yang sederhana tetapi maknanya dalam. Dan akhir-akhir ini kakta-kata tersebyt menjadi alarm bagi saya. Ya, saya, dan mungkin juga Anda terlalu berorientasi ke luar.

Saya dan Anda mungkin lupa menengok ke dalam, kita belum menyadari suara di dalam diri sendiri yang selama ini diabaikan? Sengaja dibungkam? Bisa jadi. Sabtu lalu seseorang mengingatkan saya tentang hal ini. Saatnya saya mendengarkan suara yang selama ini bungkam...suara hati saya sendiri.

Hmmm mengenali diri saya sendiri membutuhkan waktu lebih dari 28 tahun. Sebab sampai saat ini pun saya masih belajar mendengarkan diri saya sendiri. Mendengarkan adalah bagian adari mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri memang tak mudah walaupun ada begitu banyak alat yang dapat menolong kita untuk itu. Tetapi walaupun tak mudah, mengenali diri sendiri adalah kunci penting untuk membuka pintu untuk melangkah dalam hidup ini.

Dengan bertanya pada hati kita sendiri, Dengan mendengarkan suara diri sendiri. Dengan menatap "wajah" kita sendiri ketika hanya ada diri sendiri. Dengan menceritakan hal-hal yang tak pernah kita ungkapkan pada orang lain. Kata Paulo Coelho dalam buku The Alchemist, ia menulis, "Di mana hatimu berada, di sanalah hartamu terletak."

Well, perjalanan menuju ke dalam hati sendiri mungkin perjalanan yang tak nyaman, bisa membuat kita terluka kembali. Bisa membuat kita jatuh lagi. Bisa membuat  kita rapuh lagi. Tetapi kadang-kadang kita perlu kembali ke diri sendiri. Untuk mendengarkan, untuk bercerita, untuk menatap, untuk menengok apa misi hidup kita dan mendekap diri kita sendiri.

Sebab di luar sana ada begitu banyak suara dan banyak pasang mata yang memandang kita dengan frame dan microphonenya masing-masing. Ini di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan adalah "pulang" ke hati kita.

"Gnothi seauton" adalah seruan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri, ke dalam hati sendiri, Saya menuliskan ini bukan berarti saya sudah melewati fase "perjalanan ke dalam diri sendiri". Saya menuliskan ini karena saya ingin menjadi teman seperjalanan bagi mereka yang sama-sama sedang melakukan "hijrah" ke rumah hati.

Perjalanan masih panjang, nikmati apa yang tersaji, dan jangan kehilangan diri sendiri.

Yohana Defrita R.
Bandung, Februari 2016

Minggu, 14 Februari 2016

YANG MENGGERAKKAN KEHIDUPAN

Kalau saja benda-benda bisa bicara, tentu mereka mengurai cerita. Cerita tentang masa kanak-kanak kita barangkali, atau jatuh cinta pertama kali yang membuat pipi merona. Benda-benda ini diam, tetapi menyimpan kisah, bahkan gambar ketika kita sentuh. Membawa kita kembali ke masa tertentu.

Benda-benda ini kadangkala sudah lenyap tak berbekas, kadangkala sudah lenyap tak berbekas, hancur karena tak sengaja, atau sudah berpindah tangan. Ya seperti guling yang menemani saya dari bayi. Dua guling kecil yang berpisah jalan dengan saya ketika papa meninggal. Guling itu ikut pergi bersamanya. Tetapi sekalipun barangnya tak ada, dan tak bisa saya sentuh, namun guling itu pernah ada dalam beberapa episode hidup saya. Dan pernah digantikan oleh guling serupa yang setia menemani sampai bertahun kemudian.

Ah, tentu kalau diingat ada begitu banyak benda-benda kecil termasuk makanan yang menemani masa kanak-kanak kita bahkan mungkin sampai sekarang. Betapa sesungguhnya yang kecil-kecil ini yang menggerakkan kehidupan kita? memberi warna, merangkai cerita...

Tapi kalau dipikir-pikir bukan hanya benda mati itu saja yang menggerakkan hidup ini, orang-orang juga. Orang-orang sederhana yang hanya berjumpa dalam sapa di pinggir jalan yang sama, orang-orang bersahaja yang tuturnya tulus apa adanya. Orang-orang yang gigih menari bersama hidup walaupun getir menjadi nada pengiringnya, orang-orang yang menolak untuk patah tetapi berayun seirama hidup. Bagi saya mereka adalah orang-orang yang menggerakkan hidup ini. Walaupun kadang mereka tak bernama. Walaupun kadang mereka "terselip" di rimba raya urusan ini itu, meskipun kadang mereka "tersisih", atau bahkan sudah tak bersama.

Benda-benda kecil, orang-orang yang melintasi (yang sedang dan sudah) hidup kita...yang menggerakkan alur cerita kita. Yang membawa kita melangkah di jalan yang sekarang...




Bandung, Februari 2016
rindu Papa
Yodeeruf

HIDUP BUKAN PERLOMBAAN

Beberapa hari yang lalu seorang sahabat yang berpacu dengan derunya "ibuk" kota menyempatkan menyapa saya. Dua jam tak terasa kami bicara tentang hal-hal yang memndalam dalam hidup kami. Langkah-langkah kami yang sekarang dan langkag-langkah kami selanjutnya menjadi warna obrolan dua jam itu. 

Lalu, selalu ada jeda sekedar untuk menikmati gurihnya obrolan ini. Kemudian dia berkata kepada saya (atau kepada dirinya sendiri?), "Dee (ini panggilan kawan-kawan saya semenjak saya kuliah), relasi itu butuh dirawat." Aha! Saya setuju kawan! Relasi itu bukan benih yang kau lempar ke tanah dan berharap besok tumbuh sesuatu dari benih itu. Relasi itu ibarat benih yang mungkin tak kau tahu apa rupanya nanti ketika ia tumbuh. Relasi itu butuh dirawat dan dijaga walaupun bukan berarti selalu bersama sepanjang waktu.

 Tetapi, relasi juga berhadapan dengan sebuah tantangan, salah satunya adalah SIBUK!. Ya, kata "sibuk" sudah menjadi makanan sehari-hari bagi sahabat yang tinggal di kota besar. "Tidak punya waktu" adalah alasan paling favorit. Seorang penulis Chin-Ning Chu mengatakan, "Kata Cina bagi SIBUK terdiri dari dua bagian. Satu bagian melambangkan hati manusia dan bagian lain melambangkan kematian. Dari dua lambang di atas, arti yang dikembangkan adalah jika seseorang super sibuk, hatinya mati."

Seseorang yang SIBUK tak hanya tidak memperhatikan relasi, tetapi tubuh dan intuisinya berhenti ia perhatikan. Dirinya tak lagi mendengar jeritan hatinya karena terlalu banyak suara di kepalanya. 

Hmmm....hidup itu tak pernah menuntut. Kita yang menuntut diri sendiri untuk menjadi dan memperoleh sesuatu, bahkan dalam pencapaian impian tersebut seseorang rela mengorbankan kedamaian pikirannya. Ironis memang, padahal kita semua sadar bahwa semua impian berujung pada satu hal...kedamaian pikiran.

Hidup ini bukan perlombaan yang diisi dengan kesibukan dan diwarnai ketergesaan. Hidup yang berburu waktu itu akan membuat kita kehilangan kesempatan menikmati pemandangan dan perjumpaan di perjalanan. Winston Churchill berkata, "Kita hidup dari apa yang kita dapatkan, dan kita bahagia dari apa yang kita berikan."

Hidup ini bukanlah sebuah perlombaan mengumpulkan sebanyak-banyaknya tetapi atas apa yang dapat kita berikan sebelum meninggalkannya.


Bandung, 6 Februari 2016
08.18 AM
Yodeeruf

FISIKA DAN CINTA

"You can't just give up on someone because the situation's not ideal. 
Great relationship aren't great because they have no problems.
They are great because both people care enough about the other person to find a way to make it work."
 
 
 Begitulah ujaran yang saya baca di time line seorang kawan. Terhenyak juga membacanya ketika teringat harapan dari tiap pasangan bahwa hubungan mereka akan lancar jaya. Well, lancar jaya tak membuat seorang nahkoda mahir mengemudikan kapal dan membaca tanda-tanda alam. Tantangan dan badai justru menjadikan nahkoda lihai mengemudikan kapal.
 
Setahun yang lalu tepatnya tanggal 21 Februari 2015, saya sengaja menghabiskan akhir pekan sendirian. Tak ingin pergi kemanapun dengan siapapun. Ya, semacam "me time".Maka weekend saya diisi dengan menyaksikan film "The Theory of Everything". Film yang mengulik kehidupan personal begawan Fisika, Stephen Hawking. Menarik, sebab acapkali orang beranggapan memiliki relasi dengan orang-orang eksak itu garing. Ah, masak sih! Tak sepenuhnya benar, tak sepenuhnya salah. Tergantung bagaimana cara kita memandang dan memperlakukan pasangan yang orang eksak itu.
 
PADA MULANYA ADALAH CINTA....
 
jujur saja menonton film ini membuat saya menangis di beberapa adegan. Apa yang membuat saya terharu? Cinta! Jane, kekasih hati Stephen Hawking itu tahu bahwa kekasihnya sakit. Jika ia tetap memutuskan menghabiskan hidup ini dengan Hawking, ia akan tahu repotnya berumah tangga dengan partner yang lumpuh. Tapi satu saja keyakinan yang Jane pegang, "I love him, he love me too." Sederhana? ya, itu saja modal Jane untuk mengarungi hidup bersama Begawan Fisika yang lumpuh itu. Dan itu saja modal Jane untuk memerangi penyakit Hawking.
 
Babak baru kehidupan mereka dimulai, kini "modal" itu diuji. Apakah cukup atau justru semakin berkurang? Jane melahirkan seorang bayi laki-laki, kondisi Hawking semakin buruk tetapi tidak dengan otaknya. Kemudian Jane melahirkan lagi seorang bayi perempuan, dan kondisi Hawking semakin parah. Praktis ia kini hanya di kursi roda.
 
Dalam segalanya, Jane menunjukkan pengabdian cinta yang luar biasa kepada Hawking. Ia tahu Hawking tak akan bisa bermain-main dengan anak lelakinya, atau menuntun anak perempuannya jalan-jalan, bahkan tak bisa membelai Jane. Kelumpuhan Hawking semakin parah hingga Hawking tak dapat bersuara.
 
JEDA....
 
Ada satu titik dalam kehidupan Jane ketika ia sadar "modal" yang ia bawa dan menjadi motornya selama ini sudah habis. Ia terus memberi, ia terus mengabdi, tetapi ia rindu diisi. Apakah Hawking egois? Memperbudak Jane, alih-alih membayar perawat? Sama sekali tidak. Hawking tahu Janes susah payah merawat dirinya dan anak-anak plus mengejar impiannya meraih gelar Ph.D di bidang puisi Spanyol era Medieval. Bukan hal mudah bagi perempuan seperti Jane ataupun Hawking berada dalam situasi seperti ini. Jane menjerit dalam hatinya ketika ia sadar kondisi semakin sulit, dan keluarga muda mereka bukan keluarga "normal".
 
Bisa dipahami jika dalam kondisi seperti itu, Jane merasa lelah. Tetapi apakah artinya ia berhenti mencintai Hawking? Menyerah? Tidak! Tetapi cinta butuh jeda. Jane butuh aktivitas lain selain berkutat di rumah dan kampus. Jeda yang ia pilih adalah kembali bergabung dengan kelompok paduan suara di gereja. Ya, Jane seorang perempuan Kristen yang taat sedangkan Hawking tidak. Jeda ini membuat kisah menjadi berbeda. Jane dan Hawking tak akan pernah sama lagi. Entahlah apakah bintang mereka kian benderang atau justru meredup dan berakhir?
 
APA ITU CINTA?
 
Awalnya saya menganggap sosok seperti Jane adalah istri yang ideal yang mengabdi pada suami walaupun suami sakit keras. Tetapi kemudian saya teringat akan banyak perempuan di sekitar kehidupan saya yang seperti Jane. Menunjukkan ketangguhannya. Tak perlu jauh-jauh, ibu, mama, bunda, biyung, simbok kita, mereka adalah potret perempuan yang tangguh memberi diri bagi keluarga. Tanpa kita sadari, jangan-jangan mereka butuh jeda...
Cinta yang mereka tunjukkan itu membuat kita sadar  bahwa cinta adalah kumpulan energi, keyakinan, dan doa tiada henti bagi suami dan anak-anak. Itulah yang sudah Jane dan perempuan-perempuan tangguh lakukan.
 
Tetapi kisah kita tak pernah linear. Maka kehadiran Jonathan di dalam keseharian Jane membuat Jane berada di persimpangan. Di bagian ini saya sempat "protes", di manakah kesetiaan Jane, janji sehidup sematinya? Namun kemudian saya mencoba melihat dari sudut pandang Jane. Iya, Jonathan sehat, pelatih paduan suara, memang ia bukan Begawan Fisika, ia pandai bermain piano, tampan, memenuhi kriteria sebagai bapak yang baik yang meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak. Apa kurangnya? Apa salahnya? Seakan akan riak ini kurang meriah, hadirlah perawat perempuan yang menemani Hawking. Pendek cerita, Hawking pun jatuh cinta padanya. Entah apakah karena Jane sudah semakin sibuk dan menjauh dari Hawking karena ia serius menekuni disertasinya. Atau, ia sudah tahu bahwa "modal" itu sudah habis. Dan tak ada yang tersisa di antara ia dan Hawking.
 
Hawking pun akhirnya pergi ke Amerika bersama perawatnya karena Jane semakin sibuk dengan disertasinya. Jane di rumah dan ditemani oleh Jonathan. Sungguh, sampai di sini saya masih belum bisa mencerna cinta macam apakah yang terjadi di antara mereka? ataukah memang cinta ini tak butuh didefinisikan? Tak butuh dinamai?
 
Di akhir kisah, dituliskan bahwa Jane menikah dengan Jonathan, dan tetap berkawan baik dengan Hawking. Mereka memiliki tiga cucu dan Hawking masih terus berkarya di bidang Fisika.
 
Di bagian akhir film, mungkin sebagian mencaci Jane. Menganggapnya perempuan yang melanggar prinsipinya. Tetapi saya melihat sosok Jane sebagai perempuan normal yang bisa merasa jenuh, depresi, dan mengeluh. Justru saya belajar dari Jane dan Hawking.
 
Saya belajar bahwa "modal" cinta di awal saja tak cukup untuk mengarungi biduk rumah tangga berdua. Modal "i love him and he love me too" tanpa dirawat dengan perhatian, penghargaan akan habis "ditarik" terus sampai "0'. Jane lelah karena "hanya" dianggap sebagai perawat oleh Hawking (atau itu hanya perasaan Jane karena ketidakmampuan Hawking merespon dan menghujani Jane dengan perhatian layaknya suami?) Sementara Hawking tahu ia hanya menjadi beban buat Jane. Jane layak hidup lebih baik, lebih "normal" daripada bersamanya.
 
Dan, bagi saya itu cinta. Memang bukan dalam bentuk awalnya yang membawa mereka ke dalam pernikahan. Cinta yang mereka miliki di awal sudah padam seperti bintang yang mati dan meledak untuk digantikan dengan binar terang cinta yang lain seperti bintang yang baru lahir....
 
 
Bandung, usai Misa 
14 Februari 2016
Yodeeruf

Cerita dari Gedung Tua

Berjalan menyusuri rindangnya salah satu sudut ibu kota,
Tanpa deru pacu kendaraan yang meraja,
Adalah kemewahan sederhana yang disyukuri sepenuh jiwa
Hanya ada kita dan mereka.
Masing-masing di jalan yang berbeda,
Dengan kisah yang tak sama.
Yang satu berjalan dengan gembira
Senyum menghias di wajah...
Sementara mereka duduk termangu menanti entah apa,
Perubahan kisah ku rasa...
Menyusuri jalan rindang dinaungi pepohonan gagah...
Ada gedung gedung tua berbaris rata,
Diam tak bersuara ketika ku sapa...
Namun bernyawa ketika kau bercerita...
Bisa ku bayangkan detik detaknya ketika berpuluh atau beratus silam pernah berjaya...
Dengan aneka tingkah pola penghuninya...
Dansa dansinya...
Obrolannya...
Lampu-lampunya...
Tangganya yang katamu megah...
Ah, gedung gedung tua ini punya cerita,
Ketika kau memberi mereka suara...
Siang itu, kau sajikan dengan cara sederhana
Namun bersahaja...
Sepenggal sisi lain ibu kota,
Setangkup cerita tentang yang tua dan semoga tak tersia-sia...
Engkau membawaku berkenalan dengan ‘nyonya rumah’ ketika masih muda belia
Belum banyak tingkah apalagi tebar pesona
Masih lugu apa adanya...
Hingga kini melenggang manja dengan segudang gaya...
Ah, sisi lain wajah ibu kota
Dari yang tak bersuara
Hingga merajut cerita...
Di sepanjang naungan pepohonan, diam-diam aku percaya...
Selama ada orang-orang sepertimu, maka gedung-gedung tua ini punya jiwa
Bukan sekedar tumpukan batu bata.
Bahwa fasad memang selalu bisa diubah
Tapi cerita? Itu nyawa...
Yang harus dijaga...
Terima kasih sudah membawaku berkenalan dengan kisah ibu kota dalam hamparan sejarah Nusantara...



antara Jakarta-Bandung
di atas deru besi beradu besi
Senin, 8 Februari 2016
Yodeeruf