Minggu, 03 April 2011

“MATA HATI YANG MELIHAT TERANG” Yohanes 9:1-41

Anggota Jemaat mensyukuri anugerah Tuhan yang telah membukakan mata hati mereka sehingga dapat melihat Tuhan Yesus sebagai terang hidup mereka, dan tergerak untuk hidup sebagai anak-anak terang.

Menurut para ahli biblikal, Yohanes 9 ini merupakan sentral atau pusat dari Injil Yohanes. Kisah ini bukan hanya sekedar narasi tentang kuasa Tuhan Yesus, namun kisah ini adalah semeia atau tanda yang berkaitan erat dengan identitas diri Tuhan Yesus sebagai terang dunia—klaim Tuhan Yesus yang dicatat di dalam Yohanes 8:12. Kisah ini menegaskan otoritas Tuhan Yesus sebagai Terang Dunia. Penting untuk dicatat bahwa tidak ada seorang nabipun dalam Perjanjian lama yang pernah melakukan mujizat mencelikkan kebutaan. Demikian pula dalam Perjanjian Baru, tidak pernah dicatat ada seorang murid Yesus/rasul yang melakukan mujizat serupa. Hanya Yesus seorang yang pernah mencelikkan orang buta dengan frekwensi lebih banyak daripada penyakit lainnya.

Ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan dalam kisah ini:

1. Pernyataan bahwa Tuhan Yesus adalah terang dunia semakin ditekankan dalam wujud tindakan kesembuhan bagi orang buta ini.

Sebelum Tuhan Yesus melakukan mukjizat kesembuhan bagi orang yang buta sejak lahir itu, Dia kembali mengklaim atau menyatakan diriNya sebagai TERANG DUNIA. Dengan demikian Tuhan Yesus menetapkan koneksi yang jelas antara menyembuhkan orang yang buta secara fisik dengan menyatakan diri sebagai TERANG DUNIA yang menyapa dunia dan mencelikkan mata hati atau spritualitas manusia yang masih gelap atau buta. Jika di Yohanes 8:12, Tuhan Yesus sudah menyatakan diri sebagai TERANG DUNIA, maka kini pernyataan-Nya ini diwujudnyatakan di dalam karya…di dalam perbuatan.

2. Pengenalan akan Tuhan Yesus yang semakin berkembang

Dari ayat 8—13 kita dapat melihat bagaimana orang yang sekarang sudah bisa melihat itu ditanyai macam-macam oleh tetangganya. Pada ayat 19-23 kita menjumpai lagi orang yang sudah bisa melihat ini dibawa ke depan keluargnya. Dan pada ayat 24-34, sekali lagi orang yang sudah dapat melihat itu dicecar sedemikian rupa oleh orang-orang Farisi. Perhatikanlah reaksi sikap yang terekam dalam pengakuan orang buta yang kini sudah melihat itu. Pertama, dia mengakui Yesus sebagai seseorang (ayat 11), lalu ia mengatakan Yesus adalah nabi (ayat 17), Yesus adalah seseorang yang melakukan mukjizat (ayat 25), Yesus adalah seseorang yang dari Allah dan didengar Allah (ayat 31, 33), dan pada akhirnya ia percaya bahwa Yesus adalah Anak Manusia yang diutus Allah (ayat 38).

Tidak mudah bagi orang buta yang sekarang sudah bisa melihat ini untuk sampai pada tahap pengakuan,”Aku percaya Tuhan” dan sujud menyembah Yesus. Perhatikan bahwa proses pengenalan dan iman kepada Tuhan Yesus itu bertumbuh seiring dengan interogasi yang dia lalui. Terang yang dia terima tidak hanya mencelikkan matanya tetapi juga mata hatinya.

3. Ucapan Tuhan Yesus di dalam ayat 39

Tuhan Yesus mendengar bahwa orang yang Dia sembuhkan tadi diusir oleh orang-orang Farisi, barangkali dia juga mengalami eks-komunikasi alias dikucilkan dan diintimidasi oleh orang-orang sekitarnya karena keukeuh atau ngotot mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias…penyembuh dan penyelamat hidupnya. Maka Tuhan Yesus mendatangi dia dan kemudian orang tersebut mengaku percaya dan kemudian Tuhan Yesus mengatakan:

Aku datang ke dunia untuk menghakimi…supaya orang yang buta melihat dan orang yang melihat menjadi buta. Orang-orang Farisi merasa tersindir, namun sekali lagi Tuhan Yesus mengatakan Sekiranya kamu buta maka kamu tidak berdosa dan sekiranya kamu melihat maka kamu tetap berdosa.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia kita tidak akan menemukan makna kalimat-kalimat Yesus. Namun dalam teks bahasa Yunani kita akan tahu maksud dari pernyataan Tuhan Yesus ini, coba perhatikan:

Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat (me blepontes-> tidak melihat, buta), dapat melihat (bleposin-> melihat), dan supaya barangsiapa yang dapat melihat (blepontes-> melihat), menjadi buta (tuphloi ginomai-> buta).

Perhatikan kata ginomai yang memiliki akar kata sama dengan ginosko yang artinya mengerti, memahami, menyadari. Dengan permainan makna kata ini Tuhan Yesus hendak mengatakan bahwa memang mata jasmani orang-orang Farisi dapat melihat namun mata hati atau spiritualitas mereka tidak mengerti…tidak menyadari bahwa TERANG DUNIA itu ada di hadapan mereka. Orang buta yang kini sudah bisa melihat itu dengan kerendahan hati mau menerima dan percaya pada TERANG DUNIA yang menyapa hidupnya sehingga dia mengalami perkembangan pengenalan dan iman kepada TERANG DUNIA yaitu Tuhan Yesus sedangkan orang Farisi merasa diri sudah tahu…sudah mengerti…sudah pintar sehingga tidak membuka diri pada sapaan Sang TERANG DUNIA!

Dari kisah ini kita dapat melihat bahwa orang yang buta sejak lahir itu menjadi sembuh. Dia dapat melihat kembali. Tidak hanya mata jasmani yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus namun rupanya mata hati orang ini juga melihat dan menyambut Tuhan Yesus sebagai TERANG DUNIA. Lalu apa makna kisah ini bagi kehidupan kita saat ini?

Kita bersyukur karena Tuhan memberi kita anugerah sehingga mata hati kita dapat melihat Tuhan Yesus sebagai TERANG DUNIA. Lalu apa wujud nyata dari seseorang yang mata hatinya melihat dan menyambut Tuhan Yesus sebagai TERANG DUNIA? Maka undangan bagi setiap kita adalah:

· Mengakui Tuhan Yesus sebagai Yang Paling Berdaulat di dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Perhatikan kisah orang buta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus ini. Dia mengakui bahwa kesembuhannya hanya diperoleh melalui Tuhan Yesus yang tergerak oleh belas kasihan untuk menyembuhkannya. Dan kesaksiaannya di hadapan para tetangga dan orang-orang Farisi juga keluarganya semakin meneguhkan pengenalan dan keyakinan imannya bahwa hanya Tuhan Yesus , Anak Manusia yang diutus oleh Allah yang paling berdaulat di dalam hidup ini.

Pengakuan dan sikap orang buta yang sudah sembuh ini menjadi cermin bagi kita untuk mengimani kedaulatan Tuhan Yesus di dalam hidup kita. Berapa banyak dari kita yang tidak menempatkan Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang berdaulat atas hidup kita, sebagai TERANG dalam hidup kita? Kalau kita sakit misalnya, sejauh mana kita mampu mempercayai kedaulatan Tuhan Yesus akan sakit dan sembuh kita? kalau kita sedang mengalami kesulitan di dalam hidup ini, sejauh mana kita mengimani kedaulatan Tuhan Yesus atas susah senangnya hidup kita? Mungkin saja sebagai orang Kristen kita mengaku diri kita percaya kepada Tuhan Yesus. Kita perlu mengoreksi diri apakah betul-betul kita percaya? Jangan-jangan percaya itu hanya sebatas pengakuan…tetapi jarang menjadi sebuah kesaksian ketika kita masuk dalam hidup sehari-hari. Barangkali kita mengakui Tuhan Yesus sebagai yang berdaulat dalam hidup kita, tetapi kalau ada masalah kita larinya ke yang lain. Pengalaman perjumpaan dengan TERANG DUNIA yaitu Tuhan Yesus seharusnya membawa kita pada keyakinan atau iman bahwa hanya Tuhan Yesuslah yang paling berdaulat di dalam hidup kita.Ingat, kebutaan spritiual sangat berbahaya.

· Menjadi pembawa terang bagi orang-orang disekitar kita.

Siapa sich diantara kita yang tidak pernah mendengar lagu Amazing Grace? Tentu semua pernah mendengar dan bahkan bisa menyanyikannya. Bahkan dalam ibadah kita hari ini kita menyanyikannya tadi. Lagu Amazing Grace yang sangat fenomenal bahkan sampai detik ini dibuat oleh seorang lelaki Inggris bernama John Newton. John Newton adalah seorang Kapten Kapal Greyhound. Tidak hanya sekedar menjadi kapten kapal tetapi juga seorang penjual budak yang kejam dan tidak segan-segan membunuh. Bukan 1 atau 2 nyawa yang dia bunuh, tetapi 400-600 orang dia bunuh.

Suatu kali dia berlayar dari Inggris ke Benua Afrika dengan tujuan membawa sebanyak mungkin orang-orang Afrika untuk dijual di Inggris sebagai budak. Dari desa satu ke desa Afrika lainnya, Ia berburu dan menyerang manusia untuk dijadikan budak. Baginya, siapa saja orang Afrika yg mencoba melawan dan menolak untuk dijadikan budak. Akan menerima pedang kematian dari John Newton berserta awak-awak Kapalnya. Setelah menemukan orang-orang yang mau dibawa ke Inggris, John memasukkan mereka ke dalam kapalnya, kapal Greyhound. Naasnya kapal itu hanya muat 400 orang, namun John tetap mengangkut 650 orang sehingga kapal itu menjadi sesak karena sempitnya ruang gerak dan kurangnya oksigen sehingga banyak yang meninggal di tengah perjalanan. Tidak hanya itu, John tidak mau memberi makan para budak yang dia angkut. Maka lengkap sudah penderitaan di atas kapal itu. Pada tahun 1748 saat John berusia 23 tahun terjadi badai di Lautan Atlantik. Badai ganas ini hampir menenggelamkan kapal si John Newton. Serentak para budak itu dirantai dan dipasung oleh John dan para awaknya. Beberapa orang dari ke-30 awak kapal John menduga bahwa badai ini karena ulah John Newton yang sangat tidak berprikemanusiaan. Namun John yang sejak usia 11 tahun tidak pernah berdoa dan membaca Alkitab lagi tidak menggubris komentar awak kapalnya. Lama kelamaan badai ini bukannya reda tetapi semakin hebat mengamuk dan menghantam kapal John Newton. Pada saat itulah dia berteriak, “Tuhan, kasihanilah kami.” Saat itu John sangat ketakutan karena badai dan juga takut kalau Tuhan marah dan tidak mendengarkan seruannya. Dengan ketakutan dia berdoa, YA TUHAN, Jika Engkau Benar, Engkau PAsti menepati janjiMu. Sucikanlah hatiku yang kotor ini.”

Setelah 4 minggu berlalu setelah badai itu, dan juga persediaan makanan di kapal Greyhound mulai menipis, dia melabuhkan kapalnya di pelabuhan Irlandia. Seketika itu pula John Newton langsung pergi ke gereja. Dan dia pun menciptakan lagu yang berjudul Amazing Grace dengan diiringi gemuruh ombak, percikan air dan kicauan burung. Dan kini dia berubah, dia tidak lagi menjual budak bahkan dia adalah tokoh pertama di Inggris yang menentang perbudakan.

Perhatikan bahwa ada perubahan hidup yang dialami oleh John Newton. Terang yang sudah membuat dia melihat itu adalah terang yang sudah membukakan mata hatinya. Sehingga dia mau percaya dan mempercayakan kehidupanya kepada Kristus yang berdaulat. Dan kepercayaannya itu dia wujudkan dalam kesaksian tindakan nyata dalam hidup sehari-hari yaitu menghentikan perbudakan.

Terang Dunia yaitu Tuhan Yesus Kristus yang sudah menyapa kita mengundang kita untuk percaya dan mempercayakan hidup kita pada kedaulatan. Tidak hanya berhenti pada percaya saja tetapi diwujudkan lewat tindakan sehingga orang-orang di sekitar kita itu juga dapat melihat TERANG DUNIA yang berdiam di dalam diri kita masing-masing. Kita diberi kesempatan untuk menunjukkan terang kasih Allah di dalam kehidupan kita. Bahkan kesaksian yang sederhana sekalipun dapat menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk memperkenalkan terang kasih Allah di dalam hidup kita sehingga orang-orang di sekitar kita percaya akan TERANG DUNIA yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Amin.




note:

ini adalah draft kotbah yang saya kotbahkan pada tanggal 03 April 2011 di GKI Darmo Satelit Surabaya. Draft ini dalam pelaksanaannya mengalami penambahan dan pengurangan di sana dan di sini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar