Selasa, 31 Juli 2012

Puasa Adalah Mi'raj Dari Egoisme Menuju Belarasa

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

           
            Sudah hampir sepekan lewat saudara-saudari umat muslim menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sekalipun saban tahun kita disuguhi adegan tarik ulur pendapat mulainya awal puasa, namun tokh tidak mengurangi kebahagiaan sebagian besar umat muslim dimanapun untuk menyambut bulan Ramadhan dan menjalankan kewajibannya untuk berpuasa. Bagi saya sendiri sekalipun tidak menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, saya belajar banyak dari bulan yang penuh ampunan dan bulan untuk berbagi ini ( syahr al-munawasat ). Dan melalui tulisan inilah saya ingin berbagi sebuah sudut pandang…
            Di kota tempat saya tinggal sekarang ini memang bukan kota besar, namun begitu menjelang H-1 puasa dimulai, orang-orang dari seluruh pelosok kota datang dan membelanjakan uangnya di pasar dan segala pertokoan. Yang paling menarik bagi saya adalah menyaksikan mereka makan dari satu warung kaki lima ke tempat makan lainnya dengan kalap. Konon katanya hal ini dilakukan mengingat besok sudah harus menahan nafsu makan dan minum, entah apa hubungannya dengan makan kalap di H-1 puasa dan entah benar atau tidak persepektif semacam itu.  Belum lagi banyak orang yang membeli magic jar dan kompor gas. Salah seorang pegawai toko kakak saya berseloroh bahwa setiap tahun sekali magic jar mereka rusak dan itu tandanya puasa segera dimulai. Sungguh saya tidak mengerti ada hubungan apa antara magic jar yang saban tahun diganti dengan yang baru dengan mulainya puasa. Semoga di lain waktu saya mampu memahami koneksinya.
Siang itu menjelang H-1 puasa, saya nyaris putus asa menyaksikan antrean kendaraan dan padatnya orang di segala penjuru kota. Seumur-umur baru kali ini saya menyaksikan kota saya mendadak macet. Kepadatan ini akan berangsur-angsur mereda ketika puasa memasuki hari pertama dan kedua. Namun untuk hari-hari berikutnya, keramaian akan pindah pada jam 15.00-18.00. Orang-orang akan memenuhi jalan dan pusat jajanan untuk berbuka puasa. Mulai dari tempat makan yang memang rasanya wahid sampai yang absurd rasanya sama-sama padat pengunjung. Dan satu ruas jalan di daerah yang disebut Sudagaran menjelma menjadi kampung jajanan sejak jam 3 sore selama bulan Ramadhan. Jajanan yang dijual memang kurang variatif menurut pendapat saya. Paling banyak kita temui ya gorengan semacam tempe kemul, geblek dan saudara-saudaranya, lalu es cendol, jenang dan aneka sup buah atau minuman pelepas dahaga lainnya. Namun sekalipun kurang variatif tetap saja anemo masyarakat sangat tinggi untuk membeli aneka penganan untuk berbuka puasa, istilah kerennya ngabuburit. Gang di depan jalan rumah saya pun juga ikutan menjelma menjadi pusat jajanan. Sesekali saya survei ke sana. Dan benar saja tidak jauh beda dengan yang terjadi di Sudagaran. Jajanannya sama, namun pengunjungnya luar biasa. Barangkali ini pula yang disebut-sebut sebagai berkah Ramadhan, orang dapat mengais rejeki dengan berjualan makanan untuk buka dan sahur selama bulan Ramadhan.
            Dari pengamatan sehari-hari itulah saya menyaksikan sebuah fakta bahwa pada bulan Ramadhan anemo masyarakat untuk berbelanja aneka kebutuhan rumah tangga sampai pakaian juga makanan meningkat berkali-kali lipat. Jauh berbeda dengan bulan-bulan lainnya selama ini. Lalu sebuah pertanyaan terlintas dalam benak saya, “Ada apa dengan bulan Ramadhan? Apakah lantas pada bulan Ramadhan,hasil kerja sebelas bulan ludes dalam sebulan? Apakah puasa dijadikan alasan untuk makan lebih enak dan lebih mewah?” Sebagai orang yang tidak menjalankan ibadah puasa saya tergelitik untuk merenungkannya J 
            Ali Bin Musa Al-Ridha A.S pernah berkata, “Sebab diwajibkannya puasa agar manusia merasakan kelaparan dan kehausan, sehingga ia mengetahui kerendahan, kehinaan, dan kemiskinan dirinya juga agar mengetahui beratnya kehidupan akhirat sehingga bisa meninggalkan dosa dan maksiat. Puasa pertama-tama memang berkaitan dengan makan dan minum yang dikurangi lalu kemudian berkembang kepada seluruh sikap hidup yang juga puasa dari segala macam bentuk dosa. Oleh sebab itu tidak heran kalau selama bulan Ramadhan beberapa artis yang biasanya berbusana you can see my body very well mendadak tertutup atau semi tertutup. Yang di bulan-bulan lain bermesraan dengan pasangan tanpa tedeng aling-aling maka di bulan Ramadhan agak menjauhkan diri. Namun itu semua hanya akan menjadi sebuah pendangkalan makna dari puasa jika tidak dibarengi dengan sebuah kesadaran dan semangat bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan dilakukan semata-mata untuk melatih diri dari egoisme manusiawi yang sudah terlanjur mengurat akar dalam hidup kita. Sehingga sikap “puasa” dari segala macam hal-hal yang bernafaskan egoisme menjadi sebuah life style yang tidak hanya muncul pada saat bulan Ramadhan saja namun juga di bulan-bulan yang lainnya. Bagi saya apa yang diungkapkan oleh Ali Bin Musa Al-Ridha A.S  adalah sebuah pemaknaan bahwa puasa bukan sekedar ibadah yang terjadi “sekali” dalam setahun namun yang terjadi “sekali” dalam setahun itu adalah latihan sekaligus bekal untuk menjalani bulan-bulan yang lainnya.
            Memang tidak semua terjebak dalam pendangkalan makna akan ibadah puasa. Ada pula yang dalam bulan Ramadhan ini makin giat mendengarkan kotbah-kotbah para ustad dan ustadzah di berbagai kesempatan, ada pula yang makin giat beramal dan berazakat serta sudah tentu ada pula yang makin giat melafazkan ayat-ayat suci Al-qur’an setiap malam. Semuanya dilakukan semata-mata untuk mengisi bulan Ramadhan dengan “harta” yang memperkaya jiwa kita sebagai manusia. Tetapi kalau kita tidak hati-hati, maka semua kegiatan yang idealnya untuk memperkaya batin kita dan mendekatkan kita kepada Sang Khalik, akan berubah menjadi sebuah “adegan” yang mempertontonkan kesalehan demi kepuasan pribadi. Motif yang satu ini tersimpan dengan sangat rapi, dan orang lain belum tentu tahu.
            Sebentuk kesalehan memang dapat menjelma menjadi puja dan puji kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan. Namun sebentuk kesalehan dapat menjelma menjadi kepuasan pribadi karena kita mampu menjalankan segala macam kebaika yang diperintahkan oleh Allah. Nabi Muhammad S.A.W mengajari umat-Nya untuk tidak mudah terpesona pada tontonan kesalehan manusia. Manusia tidak pernah menjadi saleh selama masih merasa diri sebagai orang paling saleh. Sebab kesalehan sejati ada dalam kerendahan hati. Oleh sebab itu tajuk tulisan saya ini adalah “Puasa adalah mi’raj dari egoisme menuju belarasa”. Selama bulan Ramadhan ini manusia melakukan hijrah atau mi’raj dari pondok egoisme yang sempit kepada rumah semesta tak terbatas yaitu Allah dan para Rasul-Nya dengan berbela rasa kepada sesama ciptaan.
            K.H. Jalaluddin Rakhmat seorang profesor komunikasi massa yang menekuni tasawuf ini menggunakan teori psiko-analisis Sigmund Freud untuk merefleksikan Ramadhan sebagai sebuah turning point dalam hidup manusia,
·         Tahap Oral
Pada tahap ini anak-anak pada umumnya menemukan kenikmatan dengan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Dan menurut K.H. Jalaluddin Rakhmat, orang dewasa yang mengalami hambatan dalam perkembangan psikologisnya menemukan kenikmatan dengan memakan dan meminum banyak makanan dan minuman (bahkan dengan kalap). Persis seperti bebek yang menenggelamkan lehernya ke dalam kubangan untuk mengais-ngais makanan, leher yang tak berhenti menelan makanan.
·         Tahap Anal
Pada tahap ini anak-anak pada umumnya menemukan kenikmatan pada saat membuang kotoran dari tubuhnya. Tak jarang mereka juga menemukan keasyikan memain-mainkan kotorannya sendiri tanpa rasa jijik karena belum mengenal konsep jijik. Menurut K.H. Jalaluddin Rakhmat, orang dewasa yang mengalami hambatan pada fase ini dia akan menjelma menjadi orang dewasa yang menemukan kenikmatan dengan memandangi segala macam bentuk dan rupa hartanya, juga menemukan keasyikan memandangi rekening depositonya dan menghitung jumlah kekayaannya.
·         Tahap Genital
Pada tahap ini anak-anak pada umumnya menemukan kenikmatan dengan memain-mainkan alat kelaminnya tanpa rasa risih atau malu karena memang belum mengenal konsep tersebut. Menurut K.H. Jalaluddin Rakhmat, orang dewasa yang mengalami hambatan pada fase ini akan menjelma menjadi orang dewasa yang gemar dengan segala sesuatu yang terkait dengan alat kelaminnya misalnya mengunjungi tempa prostitusi atau mengunjugi web-site yang porno.
Tak hanya menggunakan teori psiko-analisis Sigmund Freud, K.H. Jalaluddin Rakhmat juga memberikan sebuah solusi yang bagi saya tentu saja ini memperkaya perspektif kita tentang puasa di bulan Ramadhan. Solusi untuk orang dewasa yang mengalami hambatan pada fase oral yaitu dengan menjadi orang dewasa yang gemar makan atau bahasa lainnya rakus, adalah dengan berpuasa. Sehingga dalam solusi pertama inilah apa yang dikatakan oleh Ali Bin Musa Al-Ridha A.S terpenuhi maknanya. Karena hanya dengan puasalah manusia yang rakus dapat melatih tubuhnya untuk merasakan tidak hanya lapar dan dahaga namun penderitaan dari mereka yang selama ini mengalami kesulitan pangan.
            Sayidina Ali A.S berkata, “jangan jadikan perutmu sebagai kuburan hewan.”  Dalam konteks yang lebih luas lagi puasa bukan hanya sekedar menghindarkan perut kita menjadi kuburan hewan, tanaman, buah-buahan dan lain sebagainya namun juga tidak menjadikan diri kita sebagai “penyedot” rumah, harta, sawah, ladang dari milik orang lain. Dalam konteks yang lebih holistik inilah semestinya para pemimpin berwajah ulama berhati koruptor ini dapat insyaf dan taubat akan segala tingkah batilnya yang dikuasai oleh keinginan “perut”. Sebab para pemimpin berwajah ulama berhati koruptor ini memang menelikung agama sebagai sarana pemuas nafsu kepentingan pribadi mereka sendiri. Agama yang dijadikan penjaga status quo lebih berbahaya daripada tentara paling fasis yang brutal.
            Solusi yang kedua yang diusulkan oleh K.H. Jalaluddin Rakhmat adalah dengan mengendalikan keinginan diri untuk memupuk kemewahan dan kenyamanan. Dalam point kedua inilah kita sekali lagi disadarkan akan makna puasa dalam bulan Ramadhan yaitu puasa tidak boleh dijadikan sebuah alasan untuk makan lebih mewah dan belanja lebih banyak. Justru dalam ibadah puasa orang diajar untuk lebih prihatin sehingga hati nurani ini terasah untuk merasakan denyut derita kaum nestapa dan terlatih mendengarkan suara yang biasanya terbungkam oleh riuh rendah keinginan hedonis kita.
            Ada sebuah pohon istimewa yang dicintai oleh para dewa dan tumbuh di ladang milik Erisychthon. Doa-doa dari orang-orang beriman dikaitkan pada ranting-ranting pohon tersebut. Namun Erisychthon tidak peduli, ia lantas menebang pohon itu dan menjual kayunya. Semua orang protes, tapi Erisychthon tidak peduli. Dewa mengutuk keserakahan Erisychthon. Saudagar kaya ini pun menderita rasa lapar tiada berkesudahan. Seolah perutnya adalah tubir tak bertepi. Setelah memakan segala yang ia miliki, ia makan pula anak dan istrinya sampai akhirnya ia memakan dirinya sendiri. Ditarik dalam konteks Indonesia dan kaitannya dengan solusi kedua dari K.H. Jalaluddin Rakhmat, maka bangsa Indonesia sesungguhnya juga sedang didera oleh kutukan hedonisme yang membuat orang cenderung hidup mewah tanpa susah payah. Didera oleh pragmatisme yang membuat orang berperilaku ingin sukses tanpa kerja keras sehingga semua jalan diterabas. Didera oleh sekularisme yang membuat orang makin larut dan kepentingan duniawi dan mengabaikan dimensi spritual. Yang terakhir didera oleh materialisme yang menjadikan orang memuja martabat secara berlebihan dan mengarahkan hidup untuk memjua harta benda, uang dan kekuasaan. Semuanya ini melahirkan orang-orang Indonesia yang berlomba-lomba memupuk kekayaan, kemewahan dan kenikmatan apapun caranya, yang kemudian kita eja sebagai K O R U P S I.
            Disadari atau tidak praksis keberagamaan kita saat ini belum mampu menghadapi dera hedonisme, pragmatisme, sekularisme dan materialisme sebab jujur saja, agama masih menjadi simbol normatif dan berhenti pada praktik ritualisme belaka. Ibadah puasa yang sejatinya diniatkan untuk melatih diri hidup prihatin dan secukupnya karena kita berbelarasa kepada mereka yang dipinggirkan dan ditindas belum mampu mengikis akhlak buruk yang daya rusaknya luar biasa ini. Namun bukan berarti ibadah puasa yang kita lakukan menjadi sia-sia melawan kedigdayaan hedonisme dan kawan-kawannya. Ingatlah bahwa perubahan yang dilakukan oleh satu orang besar artinya dan manfaatnya minimal bagi orang-orang di sekitar kita. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?
            Solusi yang ketiga yang diberikan oleh K.H. Jalaluddin Rakhmat adalah dengan mengendalikan basic instinct  (naluri primitif kebinatangan) kita sebagai manusia. Kita belajar untuk tidak melekat pada kenikmatan badaniah semata namun berupaya sekuat tenaga menyantuni kebutuhan rohani kita. Alat kelamin dan segala macam aksi reaksi di dalamnya haruslah dipandang sebagai sebuah karunia dari Allah. Karunia ini patut disyukuri bukan dijadikan sebagai komando dalam kehidupan kita. Walaupun yang terjadi adalah sebaliknya, yang menjadi otak atau komando hidup sebagian besar orang adalah alat kelaminnya. Dalam konteks inilah puasa menjadi media mendisiplinkan diri untuk mengubah “otak komando” kita yang tadinya di bawah pusar menjadi di kepala dan hati kita. Dengan demikian kita melatih diri sendiri (syukur-syukur orang lain juga) untuk melawan hedonisme, pragmatisme, sekularisme dan materialisme.
            Merenungkan makna ibadah puasa di bulan Ramadhan memang tidak dapat dilepaskan dari konteks bangsa Indonesia saat ini. Maka menunduk lebih dalam untuk merenungkan makna kita menjalani ibadah puasa adalah sebuah keharusan sehingga ibadah kita tidak mengalami pendangkalan makna yang berhenti pada ritual belaka. Ibadah puasa adalah sebuah perjalanan hijrahnya kita, mi’rajnya kita dari hidup yang ditelikung oleh hedonisme, pragmatisme, sekularisme dan materialisme menuju hidup yang berbelarasa sama seperti Allah dan para Rasul-Nya berbelarasa kepada mereka yang dipinggirkan, kepada mereka yang terlunta-lunta dan tidak dipandang sebagai mahluk Allah yang sempurna. Ibadah puasa menjadi sarana kita belajar untuk menjalani sebelas bulan kedepan dengan gaya hidup yang berbelarasa. Maka, selamat menjalakan ibadah puasa senyampang belum terlambat untuk melakukan mi’raj juga bagi kita yang tidak menjalankan ibadah puasa, kiranya kita sama-sama melakukan mi'raj.







Wonosobo, 31 Juli 2012
Y. Defrita Rufikasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar