Senin, 26 Desember 2011

“Cinta Allah memanggil kita untuk hidup penuh Cinta dengan sesama”. Yesaya 57:14-58:12

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Materi pemahaman Alkitab kita kali ini terdiri dari dua pasal yang sekilas lalu nampak bertolak belakang beritanya. Tapi sebelum kita beranjak mendekati kedua pasal itu, kita bersama-sama perlu menyadari bahwa kedua pasal yang menurut pembagian Bernard Duhm seorang teolog Jerman masuk dalam Trito Yesaya. Trito Yesaya sendiri menurut beberapa ahli teologi menimbulkan kesukaran dalam hal penentuan waktunya. Sekalipun disimpulkan secara garis besar bahwa Trito Yesaya membahas Israel setelah pembuangan. Namun, ada pengecualian untuk Yesaya 57 dan Yesaya 58:12 (jadi Yesaya 58:1-11 itu ditulis setelah pembuangan). Yesaya 57 ditulis pada masa pemerintahan Raja Manasye yang waktu itu tak lebih hanya sebagai raja boneka dibawah kekuasaaan Asyur. Sebab Yehuda memilih berkoalisi dengan Asyur untuk menghadapi kekuasaan Tiglet El-Peser III yang sudah mulai “mencaplok” daerah utara. Pada masa pemerintahan Manasye hidup keagamaan bangsa Israel merosot total. Mereka terpengaruh oleh kebijakan-kebijakan Asyur sebagai negara yang “menguasai” Yehuda. Kebijakan mereka tidak hanya di ranah politik dan ekonomi tapi juga spiritual. Sehingga wajar saja jika pada masa itu lahir sinkretisme. Di satu sisi umat masih menyembah kepada Allah tapi di satu sisi melaksanakan penyembahan ala Asyur. Dan Yesaya 58:12 adalah masa-masa di pembuangan, sehingga berita yang jelas berkumandang di sana adalah janji Allah untuk menyertai umatNya membangun kembali peradaban mereka sebagai sebuah bangsa. Perbedaan waktu penulisan kedua pasal tersebut dengan pasal-pasal lain di Trito Yesaya memang tidak kita ketahui mengapa bisa terjadi. Tetapi perbedaan waktu itu membantu kita untuk lebih memahami konteks umat yang mendapat berita dari Yesaya.

            Beberapa tanggapan saya terkait dengan materi pemahaman Alkitab kita kali ini:

PERTAMA,  menyoal tema dari tim Lentera Umat. Menurut saya setelah mendekati teks ini, tema tersebut kuranglah pas. Sebab berita yang didengungkan dari Yesaya 57:14-21 adalah Allah yang menderita menyaksikan ulah umatNya namun Ia masih mau melakukan segala hal untuk umatNya. Dan Yesaya 58:1-12 saya melihatnya sebagai sebuah respon dari umat yang sudah dikasihi adalah dengan hidup saleh tidak hanya di dalam Bait Allah tapi dalam relasi mereka dengan orang-orang di sekitar. Ini adalah respon yang seharusnya muncul dari orang yang sudah merasakan kasih Allah. Maka usulan tema dari saya “Cinta Allah memanggil kita untuk hidup penuh Cinta dengan sesama”.

KEDUA, terkait dengan hal di atas, maka pertama-tama saya akan membagikan “temuan-temuan saya dalam Yesaya 57:14-21. Almarhum Kazoh Kitamori seorang Teolog Jepang, seorang pendeta dan profesor mencetuskan “Theology of God’s Pain”. Teologi yang lahir dari perjumpaannya dengan Injil pada konteks Jepang tahun 1940-an. Kitamori membaca Injil pada situasi dan kondisi “chaos”. Orang-orang saling membunuh, penuh kecurigaan, dan menderita. Dan di dalam pembacaannya itulah ia berjumpa dengan Allah yang menderita, katanya “God is pain because of the terrible pain the world is going through in the confussion horror and war”. Kitamori menemukan bahwa dalam seluruh sejarah kehidupan manusia, mulai dari Adam sampai Yesus Kristus, Allah digambarkan sebagai Allah yang menanggung derita manusia. Apa yang diungkapkan oleh Kitamori ini sejajar dengan istilah Jepang Tsurasa.  Dalam cerita drama Jepang Oshin kita menyaksikan oshin yang tetap diam saja ketika mertuanya memarahi dia, mencaci maki dan menganiaya dia. Tidak sedikitpun ia ingin melaporkan perilaku mertuanya itu pada suaminya. Mengapa? Karena ia sangat mencintai suaminya maka ia rela menanggung derita demi cintanya itu. Itulah Tsurasa. Kitamori melihat Allah adalah Allah yang mengalami tsurasa, penderitaan karena cintaNya kepada manusia. Kitamori berkata, “You feel pain for someone because you love that person”.

Gambaran Allah yang menanggung derita karena cintaNya pada manusia, nampak gamblang dalam pemberitaan Nabi Yesaya dan para muridnya. Khususnya di dalam Yesaya 57:15, 16, 18, 19; Yesaya 58:8-12 kita menyaksikan Allah yang menderita karena kelakuan bangsa Israel yang terang-terangan menduakanNya. Dan Allah yang sudah menderita itu masih mau: memberikan semangat, menyembuhkan, menuntun, memulihkan, menghibur, memberikan damai sejahtera, memberikan respon ketika umat berseru, memuaskan hati, membaharui kekuatan. Semuanya menggunakan kalimat aktif! Allah yang menderita karena perlakuan manusia itu adalah Allah yang mau melakukan segala hal untuk umatNya karena Ia sangat mencintai umatNya. Allah digambarkan sebagai Allah yang sangat radikal di dalam cintaNya kepada umat manusia!

·         Ayat 14 ada seruan untuk menyingkirkan (di dalam LAI diterjemahkan sebagai “angkatlah”) batu sandungan. Batu sandungan dalam konteks Yesaya adalah penyembahan berhala yang dilakukan oleh umat Israel.

·         Ayat 15 Allah menyatakan diriNya sebagai Allah yang tidak jauh dari mereka. Ia bukanlah Allah yang bersemanyam di langit nan jauh dari pergumulan hidup manusia. Ia adalah Allah yang dekat dengan pergumulan hidup setiap orang. Ia menggambarkan diriNya sebagai Allah yang ada bersama-sama dengan orang yang “remuk” hatinya dan yang rendah hati. Dengan demikian umat Israel mau diingatkan lagi bahwa Allah mereka tidak sama dengan dewa-dewa sesembahan mereka yang berada di antahberantah, dan tidak dapat menolong mereka. Allah adalah Allah yang mengada dalam sejarah hidup manusia.

·         Ayat 16 di dalam terjemahan Indonesia kita tidak akan menjumpai nuansa Allah yang benar-benar mencintai umatNya. Kata yang dipakai di sana dan tidak nampak dalam terjemahan adalah riyb (reeb) yang berarti berusaha sekuat tenaga. Sehingga dalam ayat 16 itu, Allah berusaha sekuat tenaga untuk tidak lagi marah kepada umat Israel. Allah bukanlah Allah yang marahnya membabi buta, justru sekalipun Ia menderita menyaksikan umatNya tidak setia, Ia marah, tapi Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak lagi marah kepada Israel. Betapa besar cintaNya pada manusia!

·         Ayat 17 Allah sekali lagi membeberkan alasan mengapa Ia marah. Terjemahan bebas yang saya buat dari bahasa aslinya: karena tingkah lakumu yang tidak benar, tidak adil (Ibr: avon/aw-vone-> inquity=unfair behaviour), ketamakanmu (Ibr:betsà/beh-tsa), Aku menghukum kamu (Ibr: nākā/naw-kaw->smite=strike with firm blow), dan Aku menyembunyikan wajahKu, tapi kamu justru kembali lagi mengikuti keinginan hatimu melakukan hal-hal yang tidak benar, tidak adil, dan tamak. Jadi, Allah marah, murka karena tingkah laku umatNya yang tidak benar, tidak adil, tamak.

·         Ayat 18-19 Alkitab TB-LAI menerjemahkan kata Ibrani rapha sebagai menyembuhkan. Dalam konteks Yesaya 57, maka menyembuhkan disini berarti mengampuni. Lalu Allah akan menuntun (Ibr: nachah/naw-khaw). Allah akan memulihkan (terdiri dari dua kata Ibrani yaitu “shalam” dan “nichum”. Shalam berarti utuh, sedangkan nichum berarti belas kasih). Allah menciptakan (dalam teks Ibrani dipakai kata “bara” yang selalu dalam penggunaannya merujuk kepada Allah, sama dengan yang dipakai di dalam Kejadian 1:1-dengan demikian mau menunjukkan bahwa “tidak ada seorangpun yang dapat mencipta selain Allah”) puji-pujian (dalam teks Ibrani kata yang digunakan adalah “nowb” yang berarti buah-merujuk kepada buah dari mulut yang kemudian ditafsirkan sebagai puji-pujian) untuk menghibur mereka yang sedih.

·         Ayat 20-21 orang fasik yang di dalam teks Ibrani “rasya”(raw-shaw) berarti ‘merusak’, ‘meremukkan’ sehingga tidak berarti lagi, tidak menyenangkan, tidak enak, menjijikan. Kata ini mencakup perbuatan jahat dan akibat-akibatnya. Yang dalam bahasa Yunani kakos, poneros, athesmos, anomos yang berarti ‘tak mengenal hukum’, ‘durhaka’, ‘kebusukan’. Dikatakan mereka seperti laut yang berombak dan tidak pernah tenang. Di dalam alam berpikir orang-orang pada saat itu diyakini bahwa di dalam lautan ada Leviatan-monster laut yang ditakuti orang, sehingga masuk akal juga jika penggambaran orang jahat seperti laut. Menurut Matthew Henry Commentary, orang jahat seperti laut yang berombak dan tidak pernah tenang sebab nafsu mereka menguasai mereka sehingga mereka tidak pernah merasakan damai sejahtera.

Jadi jelaslah, Allah yang menderita(disakiti hatiNya karena diduakan oleh Israel) adalah Allah yang penuh cinta. Ia berusaha kuat untuk tidak marah berkepanjangan kepada umatNya. Ia justru mau mengampuni, memulihkan, menuntun dll. Semua karena cintaNya pada umatNya. Ketika menyiapkan bagian ini, saya tepekur merenung betapa Allah berusaha sekuat tenaga untuk bersabar terhadap saya. Pertanyaan untuk direnungkan: Jika Allah saja berusaha sekuat tenaga untuk bersabar terhadap tingkah laku manusia yang membuat Ia menderita, bagaimana dengan kita? adakah kita sudah mampu bersabar terhadap orang-orang yang menyebalkan? Tergerak untuk secara aktif mengampuni lebih dulu, menerima orang lain lebih dulu?

KETIGA, Allah yang penuh cinta itu di dalam Yesaya 58:1-12 menyatakan hal-hal apa saja yang sudah mendukakan hatiNya dan respon apa yang seharusnya ditunjukkan oleh umat yang sudah merasakan cinta Nya.

Di bagian ini, Allah melalui nabiNya memberikan definisi baru tentang makna beribadah khususnya dalam pasal ini adalah soal ibadah puasa. Selama ini mereka beranggapan dengan berpuasa maka segala macam seru pinta mereka akan di dengar oleh Allah. Allah memberikan definisi baru tentang puasa yang sekilas lalu nampak mirip dengan kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan pada masa tahun Yobel : membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, mematahkan setiap kuk, memecah-mecahkan roti bagi orang yang lapar, membawa orang miskin ke rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, tidak menyembunyikan diri dari sesama.

Perlu kita ketahui bahwa Hukum Taurat hanya membebankan puasa pada Hari Raya Pendamaian (Ibr: Yom Kipur). Hari Pendamaian (Imamat 23:26-31) dirayakan pada tgl 10 bulan ketujuh, dan merupakan hari 'perkumpulan kudus', pada saat orang merendahkan diri, berpuasa dan mengadakan pendamaian karena dosa. Hari itu dirayakan hanya sekali setahun (Keluaran 30: 10). Hari Raya ini adalah hari penitensi meriah yang diadakan oleh Allah agar terhapuslah semua kesalahan dan noda tahunan yang belum diampuni. Imam besar sendiri harus memimpin upacara liturgis serta memasuki Tempat yang Mahakudus. Namun dalam perjalanannya, orang-orang Yahudi memperbanyak jumlah puasa mereka, antara lain:

§  Sebagai peringatan akan peristiwa yang menyedihkan (Zakharia 7:1-5; 8:18-19)

§  Untuk memohon belas kasihan Allah (Yeremia 36:6,9; Yunus 3:5)

§  Tak jarang puasa juga dimaknai sebagai ganjaran yang ditimpakan pada diri sendiri selain juga dilakukan agar mendapat bimbingan dan pertolongan Allah (Kel. 34:28; Ul. 9:9; 2 Sam. 12:16-23).

Di dalam Perjanjian Lama, puasa adalah tsom, tsum, ‘inna nafsyo, ta’anit yang memiliki akar kata ‘a’ana yang secara harafiah merendahkan diri. Sedangkan di dalam Perjanjian Baru, puasa adalah asitos, asitia yang berarti lack of food for a considerable period of time and as the result of necessity rather than choice. Di dalam PB pula, orang farisi mengadakan puasa dua kali seminggu (Lukas 18:12).

            Namun dalam pembahasan Yesaya 58:1-12 ini, Allah melalui nabiNya hendak memberikan definisi yang baru dalam hal berpuasa. Menilik pada arti puasa di dalam bahasa Ibrani maka tindakan puasa adalah tindakan merendahkan diri. Dan dalam konteks merendahkan diri itulah puasa menjadi begitu erat kaitannya dengan perilaku adil. Sehingga puasa bukan hanya perkara agar suara didengar oleh Allah (Yesaya 58:3-4) tetapi puasa adalah tindakan merendahkan diri di hadapan Allah dan memberikan hati, perhatian ekstra kepada mereka yang lemah, tertindas (bukan hanya saat perayaan tahun Yobel saja). Ibadah yang demikianlah yang dikehendaki oleh Allah. Ibadah yang lahir dalam sikap hidup sehari-hari. Dengan demikian panggilan bagi kita umat percaya menjadi begitu jelas. Kita yang sudah begitu dicintai oleh Allah, dipanggil untuk merespon/menyambut cinta Allah itu dengan hidup dalam cinta kasih terhadap sesama (siapapun). Bicara tentang hidup penuh cinta kasih terhadap sesama seringkali membawa kita pada pemikiran, bahwa tindakan-tindakan yang kita lakukan atas nama cinta kasih itu haruslah tindakan yang luar biasa, menjangkau banyak orang sehingga akhirnya kita lupa bahwa tindakan sederhana sekalipun seperti memberi tumpangan kepada mereka yang rumahnya searah dengan kita, mendoakan orang lain, kalau ada yang lapar ya kasih makan, kalau ada yang tidak benar ya tegurlah ia-semua itu jika dilakukan dengan cinta, ia akan berarti bagi setiap orang. Tidak muluk-muluk, tapi yang begini ini yang justru sering terabaikan. Oleh sebab itu ketika Gus Dur memerintah, ia membubarkan Departemen Sosial, mengapa?masakan mau menolong orang harus nunggu pemerintah rapat. Kita yang sudah merasakan cinta Allah setiap detik, dipanggil untuk menyatakan cinta itu dalam hidup sehari-hari. Amin.

Galatians6_2-pln

Y. Defrita R.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar