Selasa, 18 Desember 2012

Thanks, Please Help, and Sorry Would Be Enough....

Saya pernah mempost "thanks would be enough" di sosmed tanggal 24 November 2012. Tangggapan dari seorang sahabat saya adalah " So pathetic to the man who thinks thanking would be too much..." Kemudian dia melanjutkan "He3.. please dont be mistaken... I mean that there are some people so hard to give thank.. Thanking would be too much to give.." Apa yang diucapkan oleh sahabat saya ini memang benar adanya. Beberapa waktu lalu saya mengalami sendiri bertemu dengan orang-orang yang "thanking would be too much to give". Agak tidak percaya memang, namun setelah bertemu dengan orang-orang seperti ini saya berasa bertemu dengan anak-anak playgroup yang baru belajar "how to say thank you". Jadi untuk bilang "thank you", "Matur nuwun", "Terimakasih" itu masih diajari. Miris memang....

Suatu kali saya mengikuti ceramah yang diadakan John Robert Powers, dalam salah satu sesinya dibahas tentang kata-kata ajaib atau Three Magic Words yaitu "Please help" , "Thank you" dan "Sorry". Tiga kata ajaib yang nampaknya sederhana namun absen dilakukan. Si pembicara menceritakan pengalamannya menguji dampak salah dua kata itu dalam diri anaknya yang masih SD. Suatu pagi si pembicara berkata, "Ambilin sepatu mama yang warna merah." Si anak menatap agak lama pada mamanya lalu memberikan sepatu itu. Keesokan harinya hal yang sama diulangi lagi. Lama-lama kelamaan si anak meletakkan sepatu mamanya dengan agak setengah dibanting. Seminggu kemudian, si pembicara meminta si anak mengambilkan sepatunya, "Nak, mama minta tolong ambilkan sepatu mama ya." setelah sepatu datang, si pembicara berkata, "Terimakasih". Si anak tidak lagi membanting sepatu mamanya. Namun dia tersenyum dan berkata "terimakasih kembali ma."

Dari pengalamannya inilah si pembicara menyimpulkan bahwa dampak dari kata "tolong" dan "terimkasih" itu sangat positif. Namun faktanya, sedikit sekali orang yang menggunakan kata tolong untuk menyatakan permohonan bantuan, yang paling sering adalah kalimat perintah. Apalagi berterimakasih, sangat sedikit orang yang saya jumpai akhir-akhir ini berkata terimakasih kepada orang lain yang sudah menolongnya atau memberikan sesuatu. May be thanking would be too much to give...

Sekarang coba diingat-ingat apakah pernah kita mengatakan "terimakasih" kepada tukang parkir yang sudah menjaga dan menolong kita mengeluarkan kendaraan dengan aman? pernahkah kita mengatakan "terimakasih" kepada pramusaji yang sudah membawakan pesanan kita? Pernahkah kita mengatakan "terimakasih" kepada asisten rumah tangga kita yang sudah melayani semua kebutuhan kita? Pernahkah kita berkata "terimakasih" kepada loper koran yang setia mengantar koran atau majalah kesayangan kita? Pernahkah kita berkata "terimakasih" kepada Pak Polisi yang sudah menolong kita menyeberang jalan? Pernahkah kita berkata "terimakasih" kepada anak-anak kita karena kehadiran mereka mencerahkan hari-hari kita? Seberapa sering kita berkata "terimakasih" kepada pasangan kita? Dan seberapa sering kita mengatakan "tolong" kepada asisten rumah tangga kita? seberapa sering kita menggunakan kata tolong kepada rekan, anggota keluarga dan tetangga kita untuk menyatakan permohonan bantuan?

Kalau mau jujur hati nurani kita akan menjawab bahwa kita masih kayak anak playgroup yang selalu mesti diingatkan dan diajari kapan harus bilang terimakasih dan kapan harus bilang tolong.

 Ketika saya sedang makan bersama dengan teman saya di sebuah restoran jepang, kami dilayani oleh pramusaji yang cukup cekatan. Namun karena pilihan sayuran yang kami pilih sering berubah-ubah, maka dia mesti bolak balik melayani kami. Dan setiap kali itu pula saya katakan "tolong..." dan kemudian "terimakasih" sekalipun barang yang kami pesan belum datang.Dan permintaan maaf karena pesanan kami yang berubah-ubah itulah yang merepotkan si pramusaji. Dia tersenyum dan berkata bahwa itu sudah bagian dari pekerjaannya. Teman saya lama-lama menyadari kalau ternyata si pramusaji ini lebih enjoy melayani di tempat kami ketimbang melayani meja sebelah karena di meja sebelah nyaris tidak ada yang menggubris bantuannya. Semuanya kalimat perintah. Ya emang sih, pembeli adalah raja tapi si pramusaji ini juga manusia loh punya rasa juga. Dari situ sekali lagi kata "tolong dan "terimakasih" juga "Maaf" punya daya positif yang membuat orang lain dihargai dan dihormati ^^

 

Mengucapkan kata "tolong" tidak menunjukkan bahwa kita lemah....

tapi menunjukkan bahwa kita membutuhkan keberadaan orang lain untuk membuat hidup ini berjalan...

Mengucapkan kata "Maaf" bukan berarti kita pengecut dan pecundang....

tapi menunjukkan bahwa kita pribadi yang dewasa dan berani mengakui kesalahan dan berani memaafkan juga...

Mengucapkan kata "Terimakasih"  bukan berarti kita tak berdaya...

justru kita orang yang murah hati yang mampu melihat dan menghargai jerih payah orang lain...

 

 

 

 

 

Y. Defrita R.

Wonosobo, 18 Desember 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar