Senin, 15 Desember 2008

JOY TO THE WORLD....



Joy to the world the Lord has come
let us receive His king
let every heart prepare Him room
and heaven and nature sing
and heaven and nature sing.....


Lagu-lagu Natal mulai berkumandang di telinga. Syahdu terdengar. Mengantar ingatan pada kenangan merayakan Natal bersama keluarga. Bagi kebanyakan orang Kristen, Natal adalah peristiwa penuh sukacita. Biasanya gereja akan dihias sedemikian rupa indahnya. Majelis dan aktivis sibuk menyusun program kegiatan untuk merayakan Natal. Pohon-pohon cemara laku keras di pasaran. Segala macam ornamen Natal tergantung di etalase-etalase toko menarik setiap mata yang melihat. Natal memang bukan hanya mendatangkan sukacita bagi umat Nasrani namun juga mendatangkan uang bagi pebisnis yang jeli melihat pasar.

Ditengah gegap gempitanya kita merayakan Natal ada sebagian besar orang yang tengah bergulat dengan kehidupan ini. Ada anak-anak yang harus hidup di tengah lingkungan yang kejam dan keras. Mereka tidak memiliki masa depan yang cerah. Akses pendidikan dan kesehatan di negeri ini pun hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Belum lagi orang-orang yang setiap hari akrab dengan kemiskinan. Mereka bergulat demi sesuap nasi. Mereka hidup ditengah kemajuan teknologi dan informasi yang menerjang negeri ini. Mereka ada ditengah dunia kapitalis yang menggilas setiap orang yang tak memiliki modal. Ini baru sekelumit dari wajah negeri kita yang disingkap. Bagaimana mereka bisa merasakan kegembiraan Natal? Dan apa arti Natal bagi mereka?

Segala keindahan Natal yang tercermin dalam ornamen, lagu, liturgi ataupun acara-acara Natal seakan bungkam terhadap masalah-masalah itu. Ya memang Natal bukan resep mujarab yang dapat menjawab aneka rupa permasalahan di sekitar kita. Natal adalah peristiwa di mana Allah bersikap terhadap penderitaan di dunia. Allah tidak memerintah dari singgasanaNya di Surga namun menjelma dalam rupa bayi yang tergolek di palungan hina. Allah menjelma manusia untuk turut merasakan suka derita manusia.

Natal memang bukan jawaban instan untuk setiap penderitaan dan justru karena itu Natal mengajak kita untuk berani bersikap terhadap realita penderitaan di bumi. Natal bukan hanya sekedar aktivitas religius belaka. Natal mengundang dan menantang saya juga Anda untuk berani bersikap terhadap penderitaan dan masalah-masalah di sekitar kita. Berani berbela rasa sama seperti Allah yang menjelma manusia di Betlehem. Dan biarlah Sukacita itu hadir di bumi (Joy to the world!), hadir di hati kita dan menyeruak keluar ke sekeliling kita!!

Selamat menyambut tantangan Natal!

Soli Deo Gloria.


note: ini pohon natal "instan" yang saya comot dari persediaan yang ada...he..he...itung-itung mengobati kerinduan akan suasana natal di rumah....(maklum nyaris 3 tahun ini saya tidak pernah natalan dan tahun baru-an di rumah bareng fam...hiks3 T_T...tapi it's ok...dengan ngeliat ini pohon kerinduan itu sudah cukup terobati....

oh ya...artikel ini pada awalnya saya buat untuk majalah KDM yaitu Welcoming and Sharing...yang terbit di kampus dan dikelola oleh KDM (Kelompok Doa Meditatif) entah untuk edisi Natal ini sudah naik cetak ato belum. saya juga amat sadar bahwa tidak semua pernah atau tahu tentang majalah ini, maka saya tampilkan artikel ini di blog saya...selamat membaca!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar