Hidup ini ibarat perjalanan yang lanskapnya selalu berubah-ubah. Kita semua memulai perjalanan bersama-sama, berbagi persahabatan ,kegembiraan, kesedihan dan pengalaman. Merangkumnya lewat kata dan gambar dalam lembar-lembar catatan perjalanan. Sebab dengan demikian kita meninggalkan jejak yang mungkin suatu ketika akan berguna bagi pejalan yang lain…
Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, hanya hasil perenungan dan
penggalian wombat yang beberapa waktu lalu terhenyak akan dirinya sendiri yang
berdialog dengan cara tak cukup santun bagi
kawan bicaranya.
Sebulan yang lalu sebelum PEMILU Presiden dan Wakil
Presiden Indonesia, kita memiliki kesibukan baru yang sarat antusiasme yaitu
menyaksikan Debat Capres dan Cawapres di berbagai stasiun TV nasional setiap
hari Minggu (kecuali debat terakhir pada hari Sabtu). Seusai acara debat selalu
ada ulasan dari berbagai pihak terkait tema debat malam itu, ada pula
serangan-serangan argument dari masing-masing pihak pengusung, dan tak lupa
komentar masyarakat Indonesia di media social. Isinya pun macam-macam ada yang
mengomentari penggunaan bahasa, gesture, dan tentu saja konten argument dari
masing-masing Capres dan Cawapres.
Pendek kata, ajang komunikasi dua pasangan Capres dan
Cawapres ini menjadi sesuatu yang paling dinantikan. Ya, komunikasi menjadi
sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Apalagi di zaman postmo yang
“meniadakan” batas ruang dan waktu. Berkomunikasi, berdialog adalah salah satu
kata kunci di zaman ini. Tak heran, acara debat menjadi menarik hati karena
yang tertampampang bukan sekedar deretan informasi namun apa saja yang tak
tersuarakan dengan keras di dalam dialog.
Banyak
orang beranggapan bahwa seandainya orang mau berdialog, mau berkomunikasi maka
perdamaian tercapai. Tetapi agaknya kita, khususnya saya perlu melihat pada
diri sendiri seperti apa kita bicara selama ini dengan orang-orang di sekitar
kita. Setelah khatam memanjakan diri dengan tulisan-tulisan Karen Armstrong,
saya tersadar bahwa sebagian besar orang termasuk saya diam-diam mewarisi
tradisi Yunani kuno dalam berdialog dengan orang lain.
Konon
kisahnya, di dalam majelis demokratis Athena, para warga belajar untuk berdebat
secara KOMPETITIF, menyusun argumen secara logis dan efektif agar menang.
Orang-orang berlatih teknik-teknik retorika untuk mengintimidasi lawan
bicaranya. Tujuannya sebenarnya sangat primitif yaitu mengalahkan lawan
bicaranya bahkan kalau bisa mempermalukan pihak lawan dan membuat pihak lawan
MENYEBRANG ke pemikiran kita. Penuh aura penaklukan.
Sedangkan
dialog kedua adalah dialog ala Socrates yang sangat berbeda dengan gaya Athena.
Socrates menganjurkan orang untuk menjawab dengan cara yang lebih lembut dan
lebih tepat untuk berdialog, berdiskusi dengan orang lain. Maka dialog Socrates
ini disebut dialog ruhani yang dirancang untuk menghasilkan perubahan
psikologis yang mendalam pada pesertanya. Tujuannya adalah agar tiap orang
memahami KEDALAMAN KEBODOHANnya sendiri!
Wow,
sangat mengejutkan setidaknya bagi saya. Betapa tidak, dalam tiap dialog atau
diskusi, masing-masing tentu saja enggan ditelanjangi kebodohannya. Namun
dialog ala Socrates mensyaratkan sesuatu yang luar biasa tidak mudah (bahkan
mungkin tidak cukup masuk akal) untuk dipraktekkan. Dialog ala Socrates membawa
implikasi yang luar biasa. Orang akan dihantar pada kenyataan bahwa ia tak tahu
apa-apa. Ia yang selama ini mengklaim diri sebagai yang tahu akan orang lain,
tahu akan budaya lain, tahu akan tradisi agama lain, bahkan tahu tentang
orang-orang yang kita cintai. Dialog ala Socrates membuat kita sadar bahwa kita
tidak tahu apa-apa dan terbakar keinginan untuk membuka diri dan mencari tahu.
Seperti seekor katak yang menatap langit biru dari dalam sumur. Ia menduga
langit biru hanya selingkaran sumur. Tetapi setelah ia sampai di bibir sumur,
terperanjatlah ia, langit yang ia kira hanya lingkaran biru kecil ternyata maha
luas.
Dalam
terang pemahaman yang baru ini saya sadar, dialog bukan hanya sekedar ajang
tukar informasi tetapi “meluangkan tempat untuk yang lain” dalam pikiran,
mendengarkan dengan seksama dan tak takut mengakui bahwa argumentasi kawan
bicara lebih valid. Bukan semata memegang kaku pendapat masing-masing.
Yang
menarik lagi, Socrates bukan hanya mengajarkan orang untuk menata logikanya
dalam berkomunikasi dengan orang lain, namun juga bagaimana cara
menyampaikannya kepada orang lain. Harus diakui sekali lagi, kita tidak banyak
melakukan dialog seperti itu hari ini. Perdebatan dalam lembaga pemerintahan,
media, akademisi, bahkan obrolan sesehari bersifat KOMPETITIF. Tidak cukup bagi
kita untuk mencari KEBENARAN, tetapi kita ingin lebih jauh dari itu, KEKALAHAN
orang lain, MEMPERMALUKAN orang lain. Sudah jelas, sebagian besar orang
termasuk saya terjebak pada dialog pamer ego. Tak sudi mengakui bahwa pihak
lain pendapatnya valid atau lebih logis. Dalam hal ini saya terkenang Bapak
Prabowo yang dalam beberapa kesempatan debat menyatakan persetujuannya akan
argumentasi Bapak Jokowi. Entah apapun motivasinya.
Dalam
dunia kita yang sangat kompetitif dan kontroversial, kita perlu mengembangkan
dialog ala Socrates yang sarat belas kasih bukan pamer ego. Kita dan khususnya
saya belajar bertanya pada diri sendiri apakah saya ingin menang berargumen, apakah
saya ingin mencari kebenaran, apakah saya sedang mencari sanjungan, atau apakah
saya siap untuk mengubah pandangan saya jika argumen kawan bicara saya lebih
masuk akal?
Di
atas segalanya, saya masih harus belajar mendengarkan. Mendengarkan adalah salah
satu kata kunci yang lain dari terciptanya jembatan dialog ala Socrates.
Seringkali tanpa kita sadari, kita mendengarkan orang lain berbicara hanya
untuk memelintir kata-kata orang itu, menjadikannya senjata untuk menyerang
orang itu, atau menjadikannya bahan olok-olokan. Mendengarkan yang sejati
menurut Karen Armstrong berarti lebih dari sekedar mendengarkankata-kata yang diucapkan. Tetapi kita harus
sensitif terhadap pesan yang mendasarinya dan apa yang sebenarnya tidak
terucap, tidak tersuarakan. Bahkan kita harus berusaha untuk mendengarkan rasa
sakit, ketakutan yang muncul dalam bahasa tubuh, nada suara dan pilihan kiasan.
Diakhir
perenungan ini saya makin terpacu untuk memperhatikan bagaimana saya berbicara
dengan orang lain selama ini. Seolah bercermin diri saya bertanya pada jiwa
saya, ketika saya berdebat, apakah saya terhanyut oleh kepintaran diri sendiri
dan sengaja mempermalukan orang lain? Menyudutkannya demi mendulang pujian? Dan
bersengaja menimbulkan rasa sakit pada kawan bicara? Apakah saya menganggap
argumentasinya sebagai sebuah serangan pribadi? Apakah argumen saya bertujuan
untuk mengembangkan pemahaman atau justru memperburuk situasi? Apakah saya
benar-benar mendengarkan kawan bicara saya dengan hati terbuka? Apakah saya
membiarkan diri saya “kalah” berargumen? Dan sebelum saya memulai sebuah
dialog, saya perlu bertanya pada hati saya apakah saya siap mengubah pikiran
saya….
Perjalanan pulang atau
biasa disebut mudik dari Bandung menuju Wonosobo menjelang Idul Fitri bukanlah
pekerjaan mudah. Setidaknya bagi saya, kegiatan ini sangat menguras energy.
Bukan hanya bekal minuman yang diperbanyak namun bekal kesabaran harus pula dipacking
dengan apik. Supaya hati teredam tiap kali kendaraan terjebak macet. Dan memang benar, ini kali kedua saya membawa
diri saya ke dalam pencobaan. Pulang atau pergi ke suatu tempat jelang libur
Idul Fitri. Perjalanan yang menguras stok kesabaran ini pun berlangsung.
Diawali dengan kemacetan di daerah Cicadas sampai Cicaheum sampai kemudian
macet tiada terkira di daerah Garut dan sekitarnya.
Tetapi
dibalik ketidaknyamanan itu saya bersyukur mata saya selalu mengajak saya untuk
menutup. Sekali ini saya bersyukur dengan kemampuan saya tertidur cepat dalam
perjalanan. Setidaknya acara tidur ini membuat saya terhindar dari rasa bosan
terjebak macet dan rasa nyeri di badan. Dan stok kesabaran saya tidak ludes
tergerus macet.
Benar
dugaan saya, perjalanan ini membutuhkan waktu sangat lama. Jam tujuh pagi saya
baru tiba di Wonosobo dengan tubuh remuk redam sebagai salah satu dari sekian
banyak korban kemacetan arus mudik Lebaran. Tetapi di sela tubuh yang remuk
redam saya justru mendapatkan hikmah, mari kita sebut ini sebagai hikmah mudik.
Di
sela-sela ngantuk yang mendera ketika kendaraan saya terjebak macet panjang di
Garut, saya menyaksikan wajah-wajah orang yang lelah namun antuasiasme mereka
untuk pulang membuat mereka bertahan dengan kegilaan di jalan ini. Ah,
ya…benar…sejauh apapun perjalanan yang harus ditempuh, semahal apapun ongkos
yang harus dibayar, sesulit apapun rintanganya, semacet apapun, selelah apapun,
orang selalu rindu pulang pada sesuatu yang mereka namakan rumah.
Bicara
tentang pulang ke rumah, bagi saya bukan semata rumah secara fisik yang
menaungi dari panas, dingin, hujan dan terik matahari. Namun sesuatu atau
bahkan mungkin sekali orang yang kita sebut “rumah”. Yang selalu memanggil kita
pulang, menunjukkan jalan pulang kepada kita. “Rumah” yang didalamnya kita
merasa dicintai, diperlakukan dengan hormat, dan belajar berbagi ruang dengan
sesama. “Rumah” dalam arti ini adalah tempat, suasana, orang-orang yang selalu
menawarkan kehangatan.
Ketika
pikiran sibuk mengunyah hikmah mudik ini seorang teman mengirimkan pesan via
bbm, “selamat mudik ci, selamat menikmati
rumah #pengen”.Saya balas, “I’m on my way home. Ciptakan “rumahmu”.
Maksud saya, jika tubuh fisikmu menghalangimu menikmati kehangatan rumah, maka
carilah dan ciptakansendiri “rumah”
yang membuat hatimu kembali menghangat, yang membuat jiwamu dibasuh setelah
lelah bertualang. Dia katakan, “I will
ci” ah, ayem hatiku mendengar janjinya.
Kemudian
seorang bapak sekaligus kawan perjalanan saya melewati lembah kedukaan beberapa
tahun yang lalu bertutur demikian, “Dapat
menjadi gambaran kerinduan ingin berjumpa secara dekat dan intimate dengan
sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan kehidupan)…dan kita bersedia mengambil
segala risiko yang harus kita ambil ketika telah memaknai panggilan kehidupan
untuk menuju ke sana…kesediaan kita seharusnya kita tempatkan pada panggilan
itu…dan bukan organisasi apapun buatan manusia. Itulah arah “spiritual
direction” di dunia postmo ini. Banyak orang terbius kemewahan sarana kehidupan
kita…dan tidak terbius oleh panggilan kehidupan itu sendiri. Enjoy your living
pilgrimage” Tuturan bapak sekaligus kawan ini memang melihatnya dalam
konteks yang lebih luas. Bahwa proses pulang ke “rumah” adalah kerinduan yang
terpendam akan sesuatu yang terkait dengan tujuan hidup dan selalu membawa
resiko.
Maka
sesungguhnya bagi saya acara pulang ke rumah dan “rumah” adalah proses kembali
menyusuri jalan yang dulu pernah dilalui atau bahkan mungkin jalan yang baru
untuk memunguti hal-hal yang menolong kita membawa pada kepenuhan makna hidup…
Sesampainya
di rumah dengan tubuh lelah, berbaring adalah sebuah obat. Ya, saya sudah
sampai di rumah yang menghangatkan saya, yang melegakan.Namun saya pun masih dalam proses pulang
mencari “rumah” bagi jiwa saya…”rumah” bagi hati saya. Sehingga sejauh apapun
saya berkelana…sejauh apapun saya berlayar…selelah apapun saya oleh tekanan di
luar sana…saya selalu punya tiket pulang…saya selalu punya jalan pulang…saya
selalu mendengar seruan untuk pulang…pulang ke “rumah”. Kata seorang bijak
bestari, “dimana hartamu berada di situ
hatimu berada” bagi saya, “dimana
“rumah”mu berada, di situ hatimu berada.”