Senin, 22 Maret 2010

JAMBAN



Apa yang ada dalam benakmu ketika mendengar kata “jamban”? Ha, benar. Jamban itu tempat membuang kotoran manusia…tempat buang air besar maupun air kecil yang tak hanya berarti air kencing tetapi ingus juga. Selain itu apalagi? Ada yang bilang jamban itu tempat yang menjijikan, bagi saya belum tentu. Tergantung siapa yang punya dan membersihkan jamban itu. Buktinya jamban di rumah saya bersih dan selalu menyenangkan untuk disinggahi. Tapi ada juga yang memandang jamban itu sebagai suatu tempat yang tabu untuk dipercakapkan apalagi ditulis seperti ini. Mungkin orang-orang yang berpendapat demikian berpikir, ‘ngapain sih ngomongin jamban, mendingan ngomongin Luna Maya”. Tetapi ada juga lho orang-orang yang menganggap jamban sebagai “their sacred room”. Whua..jelas saya masuk kelompok ini. Betapa tidak setiap orang harus mengeluarkan aneka bentuk kotoran itu setiap hari (dan sembari membuang kotoran biasanya beberapa dari kita akan menemukan ide cemerlang ketika singgah di jamban). Rutin. Semata-mata agar metabolisme tubuh terjaga. Coba lihat dan sadari, bahwa yang kotor yang keluar dari tubuh kita ini bukan berarti tidak berharga…tanpa mereka keluar rutin setiap hari, maka kesehatan tubuh terganggu dan akan menguras uang puluhan hingga ratusan juta lebih mahal ketimbang harga jamban itu sendiri. Jangan remehkan kotoran yang keluar itu. Saya dan Anda harus mengeluarkannya untuk turut serta dalam metabolisme tubuh yang sehat. Bayangkan kalau tidak ada jamban atau tidak pernah ada orang jenius yang menciptakan jamban…metabolisme tubuh mungkin akan sedikit banyak mengalami gangguan karena kita buang kotoran sembarang bak kucing atau anjing. Maka untuk hal yang mungkin Anda anggap tak senonoh itu, saya justru menghaturkan syukur kepada Allah untuk siapapun dia yang berhasil menemukan ide membuat jamban.

Nah, itu jamban dalam arti yang sebenar-benarnya untuk dijadikan tempat membuang kotoran manusia dan sambil membuang biasanya beberapa orang mendapat inspirasi justru di atas jamban. Sekarang jamban dalam arti kiasan. Bisa toh? Oh ya jelas bisa-bisa saja. Begini kisahnya, suatu siang di perpustakaan kampus, di depan saya laptop menyala dan saya sibuk mengkonsumsi google. Sementara di depan saya ada seorang teman lelaki yang juga asyik berkutat dengan net-booknya. Sesekali saya “ngedumel” sendiri dan dia yang duduk di depan saya hanya senyam senyum. Lalu pada puncaknya dia merasa jengah dengan tingkah saya yang mirip dukun komat kamit sendiri sementara kuping ditutup headset. Dia bertanya, “Ngapain sih ngomong sendiri?” Saya melepas headset dan balik menjawab, “Apaan?” Dia berkata, “Kamu ngapain ngomong sendiri?” Saya menjawab, “Oh, lagi buntu ni otak. Huh…jamban yang buntu aja bisa disedot biar lancar jaya dan mampu menunaikan tugasnya sebagai jamban, lha kalo otak yang buntu? Mana ada tukang sedot otak?” Spontan dia tertawa terbahak –bahak. Dia bilang saya gila sudah menyamakan otak dengan jamban. Saya bilang saya waras! Otak saya tidak beda jauh dengan jamban. Setiap detik saya membuang segala informasi entah baik entah buruk ke dalam jamban saya. Lalu jamban ajaib ini akan mulai menyortir mana yang benar-benar layak bersemayam mana yang tidak. Ini bedanya dengan jamban harafiah! Namun layaknya jamban saya juga yakin kalau otak saya juga punya batas tampung. Mungkin kalau sepitank tempat jamban mengalirkan semua yang masuk padanya sudah penuh, datanglah mas-mas tukang sedot untuk mengurangi isinya. Lha kalau ini kan otak saya! Tidak benar-benar difungsikan dan dimaknai sebagai jamban harafiah. Jadi bagaimana? Setelah tidur 1 jam saya menemukan ide, jamban kiasan ini harus dilengkapi filter yang canggih untuk memilah dan memilih mana yang harus dipirkan dulu mana yang tidak, mengingat setiap saat saya membuang informasi padanya…

Nah, itu jamban kiasan yang pertama. Jamban kiasan yang kedua bukan soal otak namun soal hati saya. Saya mengibaratkan hati saya sebagai jamban. Setiap orang terdekat datang dan membuang segala yang tidak mereka inginkan pada hati saya dan sedikit sekali mereka membuang yang mereka inginkan.. Pada dasarnya disini ada kemiripan fungsi antara jamban harafiah dan jamban kiasan. Setelah mereka membuang segala kesedihan, keluh kesah, kebahagiaan dan masih banyak lagi, mereka akan sedikit merasa ringan dan bisa perlahan melanjutkan “metabolisme” hidupnya. Tetapi saya si jamban, jangan ditanya bagaimana penuhnya hati ini. Kadangkala ingin meledak, tetapi saya tidak tahu harus meledak pada siapa. Pada akhirnya saya menyadari bahwa hati manusia adalah jamban…dan jamban tak pernah seluas lautan yang mampu menerima segala hal dan mengendapkan bahkan mungkin menghancurkannya.

Mungkin bagi Anda tulisan ini aneh atau jorok, silahkan saja menilai demikian, namun bagi saya, layaknya jamban…sesuatu harus dikeluarkan dan ditampung.

Yogyakarta, 19 Maret 2010

Defrita Rufikasari

Jumat, 19 Maret 2010

NON IN COMMOTIONE DOMINUS[1]……

Dewasa ini kehidupan manusia tak sesederhana kehidupan Homo sapiens kala itu. Segalanya serba kompleks. Segalanya menuntut kecepatan dan ketepatan . Mau tidak mau manusia terseret dalam arus mobilitas yang serba high-tech. Manusia “dipaksa” berlari ke sana ke sini hanya untuk meraih posisi, status, uang, martabat dan masih banyak lagi. Segala upaya dikerahkan agar tak terlindas oleh yang kuat. Segalanya diperjuangkan agar memperoleh apa yang didambakan. Sampai –sampai lupa akan makna dari tiap peran yang sedang dimainkan. Dan mulai merasakan kegelisahan dalam relung jiwanya yang teramat sering dibungkam oleh aktivitas dan motivasi hidup. Kegelisahan akan sapaan Allah. Kerinduan untuk menyapa dan disapa.

Alkisah ada seorang perempuan bernama Arleta dalam novel berjudul “Kalacakra”-yang mencari Allah. Dia seorang muslim taat, namun dia merasa gelisah dalam batinnya. Dia rela menghabiskan uang jutaan rupiah, menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mempelajari sastra kuna demi bertemu Dia. Rela bepergian ke segala penjuru bumi untuk belajar pada berbagai macam guru demi menemukan Dia dan pada akhirnya menemukan kedamaian. Beberapa dari kita-kalau tak mau dibilang banyak- merasakan apa yang dirasakan oleh Arleta. Sibuk mencari Tuhan ke sana ke mari. Dan sampailah pada hipotesis bahwa “Gott ist ein lauter Nichts, ihn ruhrt kein Nun noch hier.”[2] Benarkah Dia hanya sebuah ketiadaan atau justru Dia adalah ADA?kalau ada di manakah Dia berada? Bagi saya Dia adalah penyebab dari segala yang ada dan Dia adalah ADA itu sendiri yang tidak disebabkan oleh apapun. Dia ada bukan dalam kegelisahan tapi dalam sikap batin yang tenang.

Sejenak keluar dari segala rutinitas keseharian seorang mahasiswa tingkat 3 lalu melangkah masuk ke dalam komunitas yang hening merupakan pengalaman pertama bagi saya. Komunitas para rahib Trapis di Rawaseneng menjadi seperti sebuah ironi bagi saya. Bahwa dalam hingar bingar dunia ini masih ada sekelompok orang yang dengan taat dan rendah hari beringsut mundur dari keramaian dunia dan masuk dalam perjumpaan dengan Allah dalam keheningan. Keheningan bukan berarti pasif. Justru dalam keheningan itu mereka berkarya bagi kesejahteraan komunitas dan bagi penduduk di sekitarnya. Mereka melakukan aktivitas dalam keheningan. Aktivitas mereka maknai sebagai suatu doa dalam keheningan dan persatuan bersama Allah. Kita mungkin tak terbiasa hidup serba hening. Mengapa? Karena kita terbiasa dibanjiri dengan kata-kata. Menurut sebuah penelitian di Amerika tahun 2007 lalu ditemukan bahwa perkataan manusia dalam 1 bulan jika dijadikan buku maka akan tercipta 2 buah buku dengan tebal masing-masing 300 halaman. Dan 24 buku dalam 1 tahun. Dan 1200 buku dalam 50 tahun! Kita terbiasa dengan dunia yang ramai oleh kata-kata. Oleh sebab itu kehidupan para rahib di Trapis Rawaseneng adalah sesuatu yang tidak lumrah bagi kita. Mereka hening. Mereka berkarya pun dalam keheningan. Mereka hidup dengan terartur tak seperti manusia pada umumnya, mereka ibadah sehari 5 kali, makan teratur, dan tidur pun teratur pun juga dengan kerja yang teratur. Jam-jam dalam 1 hari mereka perhatikan dan maknai. Pola hidup mereka menimbulkan ketenangan dalam batin yang sedang bergemuruh. Pola hidup yang hening dan dalam keheningan itu mereka bercengkrama dengan Allah.

Namun batin saya tergelitik untuk melihat bahwa pola hidup mereka itu bukan segalanya. Artinya, kalau ingin disapa dan menyapa Allah tentu tak hanya dalam keheningan namun dalam gerak keseharian kita pun kalau kita mau peka…Dia di sana! Sayangnya, kebanyakan dari kita tak peka dengan kehadiran-Nya. Manusia berlari dari satu hal ke hal yang lain. Dipacu oleh berbagai macam motivasi untuk mewujudkan tujuan dan lupa apa arti dari tiap gerak yang dibuat.Berenang dalam arus mobilitas yang serba hi-tech membuat manusia gelisah . Seakan-akan ada sesuatu yang tertinggal atau lebih tepatnya ada satu bagian yang merindukan kesejukkan. Manusia rindu disapa dan menyapa oleh Allah Sang Pemberi Gerak dan Gerak itu sendiri. Manusia mencarinya dalam lembaran-lembaran kertas tulisan rohani. Mencari diantara gedung gereja, mesjid, kuil, dan klenteng. Menerka-nerka apakah Allah ada di kantor, gedung, universitas, rumah sakit atau pasar? Menghabiskan jutaan lembar uang untuk mencerap keheningan batin agar sapaan itu terjadi. Ratusan tempat yang menawari keheningan pun dicoba, siapa tahu Dia ada di sana…

Satu hal yang menarik bagi saya bahwa spiritualitas Sistersian yang menjiwai para Rahib Trapis Rawaseneng merupakan sebuah oase bagi jiwa-jiwa yang memerlukan tuntunan untuk menemui Allah. Menjadi another way to knowing God. Spiritualitas yang kental dengan nuansa keheningan menjadi semacam tempat untuk sejenak melepas lelah. Tempat untuk meneguk sedikit kesegaran Air Kehidupan di tengah gersang dan tandusnya kehidupan dunia. Tak heran jika banyak orang datang ke tempat ini. Mereka datang untuk merasakan sapaan dan menyapa Allah dalam keheningan. Mereka datang untuk menghayati hidup para rahib. Mereka datang untuk menrefleksikan hidup mereka. Mereka datang untuk mencoba merasakan pola hidup yang berbeda dari yang biasa mereka jalani. Mereka datang dengan sejuta alasan yang mungkin kita tidak tahu.

Suatu ironi memang jika melihat kenyataan bahwa mahluk canggih bernama manusia bisa kelimpungan mencari Tuhan. Bisa gelisah dalam pencarian akan Dia. Dan berbondong-bondong menyerbu pertapaan-pertapaan untuk memperoleh keteduhan dan sapaan dari Allah. Namun, suatu kebahagiaan pula bahwa masih ada oase di tandusnya gurun kehidupan ini!

Diskusi klasik tentang pencarian akan Allah mungkin tak akan segera usai sebab sadarlah bahwa otak ini tak mampu menembus Dia yang lebih besar dari apapun. Tetapi biarlah kita pun dapat bergumam seperti seorang rahib dalam biliknya…”O quam salubre, quam iucuncum et suave est sedere in solitudine et tacere et loqui cum deo!”[3] sambil menyadari bahwa Dia ada dalam gerak dan keramaian..Dia ada dalam keheningan..bukan dalam kegelisahan! Seraya saya melangkahkan kaki keluar dari kapel dan berbisik lembut pada Dia bahwa dalam dinamika gerak kehidupan, saya akan berupaya mengenali sapaan-Nya dan meluangkan waktu untuk menyapa Dia dan kami pun bercengkrama.

In nomine Patris et Filio et Spiritis Sanctis. Amen.[4]

Yogyakarta, medio April 2008

(tulisan ini adalah refleksi kunjungan ke Pertapaan Trapis Rawa Seneng dan pernah dimuat di facebook saya)

[1] Tuhan ada bukan dalam kegelisahan

[2] “Tuhan adalah suatu ketiadaan belaka, tidak ada di sana dan tidak di sini.”

[3] “Oh, Betapa membahagiakan, betapa nyaman dan betapa manis duduk dalam kesunyian dan diam dan bicara dengan Tuhan!”

[4] Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amen.

“NUMINOSUM TREMENDUM ET FASCINOSUM”


“Sanatana dharma” adalah nama asli Hindu. Demikian secuil info yang tercerap di memori saya. Sanatana artinya kekal, sedangkan dharma artinya sifat yang melekat atau menopang keberadaan sesuatu sehingga sesuatu bermakna. Penjelasan lain sempat terselip adalah ketika orang A pindah ke agama lain selain yang dianut sekarang tetap dia harus sembahyang. Begitu pula jika dia pindah lagi. Pokoknya, berapa kali pindah tetap saja dia harus sembahyang. Sebab itulah sifat yang melekat di dalam diri manusia dan membuatnya bermakna. Nampaknya Sanatana dharma lebih dalam pengertiannya ketimbang disejajarkan dengan agama. Dalam pemahaman saya, Sanatana Dharma adalah perasaan atau kepekaan adanya Yang Ilahi yang mendorong kita untuk bersembah pada-Nya.

Saya tidak tahu apakah kadar Sanatana dharma dalam tiap orang berbeda atau tidak. Namun saya meyakini satu hal bahwa perasaan akan adanya Yang Ilahi dan tergerak untuk menyembahNya adalah awal dari lahirnya gagasan-gagasan akan Yang Ilahi itu sendiri. Sehingga tak heran jika kita menjumpai ada banyak nama untuk menggambarkan Yang Ilahi yang biasanya dihubungkan dengan sifat, kekuasaan, dan juga karya tertentu. Hal ini pula yang terjadi di Hindu, ada banyak nama untuk menggambarkan Yang Ilahi misalnya Khrisna, Siwa, Wisnu, dan masih banyak yang lainnya. Sekali lagi nama-nama yang menggambarkan Yang Ilahi ini menarik manusia untuk bersembah kepadanya. Lalu, bagaimana manusia mengembangkan perasaannya terhadap Yang Ilahi?

Rudolf Otto seorang pemikir ilmu-ilmu agama mengemukakan konsep “Numinosum tremendum et fascinosum”.[1] Pertama, manusia merasa takut dan gentar. Manusia memiliki keyakinan bahwa Yang Ilahi itu memiliki kuasa. Sangat dahsyat. Manusia gentar di hadapan Yang Ilahi. Merasa diri kecil tak berdaya ketika menghadapi ke-Maha Kuasa-an Yang Ilahi. Yang kedua, walaupun manusia merasa gentar, tetapi manusia tetap tergerak untuk mendekat dan terpesona akan Yang Ilahi. Manusia merasakan kekuasaan Yang Ilahi itu telah memutar mesin kehidupan ini sedemikian rupa sehingga semua bergerak sesuai dengan fungsinya dan dengan waktunya. Di hadapan kekuasaan Yang Ilahi itulah manusia merasa damai dan tenang…sehingga tergerak untuk bersembah di hadapanNya.

Sekarang mari kita cermati peribadahan kita selama ini. Adakah ibadah-ibadah…sembahyang-sembahyang yang kita lakukan hanya berhenti pada titik “takut dan gentar akan Yang Ilahi?” Pertanyaan itu yang “nyelonong” lewat di pikiran saya tatkala menyaksikan teman-teman dari Narayana Smirti Ashram mengadakan sembahyang atau ibadah pada jam 12.00-12.30 WIB. Mereka mengawali dengan nyanyian puja yang membantu mereka untuk terus mengingat siapa yang mereka cintai dan mereka sembah yaitu Khrisna. Ada nyanyian puja…ada gendang…ada simbal ukuran mini…dan ada tarian. Saya nyaris lupa kalau itu bukan festival budaya tetapi ibadah! Benar-benar mengalir dan benar-benar meriah. Ketika melihat mereka beribadah, saya melihat bahwa mereka melakukan itu semua bukan karena takut tetapi karena cinta! Ini yang belum saya temui di gereja.

Suasana yang terkesan kaku, seolah-olah kita sedang menghadap Sang Raja yang mudah marah…mudah tersinggung jika ada sesuatu yang tak berkenan di hatiNya. Maka dari itu jangan heran jika peribadahan di sebagian gereja mirip dengan protokoler kenegaraan yang formal dan kaku. Saya berpikir apakah ini ibadah yang dikehendaki oleh Yang Ilahi? Atau ini mutlak hasil intepretasi manusia akan Yang Ilahi? Umat yang mencintaiNya datang dengan perasaan takut salah bersembahyang…takut salah nyanyi…takut salah berpakaian…takut salah meletakan cawan dan roti di altar…dan masih banyak bentuk-bentuk ketakutan lainnya yang membuat ibadah menjadi garing. Saya tidak sedang memprovokasi untuk menciptakan ibadah yang hingar bingar namun saya sedang berbicara soal bagaimana ibadah-ibadah itu justru berhenti pada pemaknaan akan Yang Ilahi yang pertama yaitu “takut”. Padahal masih ada yang kedua yaitu “terpesona atau tertarik”. Saya belum bisa melihat bentuk pengejawantahan yang kedua dalam ibadah-ibadah di sebagian gereja. Atau barangkali tidak hanya di gereja yang seperti itu tetapi di agama yang lain mungkin juga begitu…mungkin juga tidak.

Terhadap Yang Ilahi yang menggentarkan dan sekaligus mempesona itu manusia seharusnya menjadi gentar tetapi juga terpesona. Dan semestinya ini mewujud dalam seluruh keberadaan diri kita. Kembali saya terusik dengan pikiran…jangan-jangan Yang Ilahi selama ini tidak menggentarkan dan tidak membuat kita terpesona? Atau kita memang gentar tetapi tidak terlalu terpesona? Entahlah…


(Tulisan ini adalah refleksi kunjungan ke Narayana Smirthi Yogyakarta)



[1] Andar Ismail, “Selamat Pagi, Tuhan!”. Hlm.10