Senin, 10 Juni 2013

Baldassare Embriaco dan Kiamat



Amin Maalouf
            Amin Maalouf, sebuah nama yang nyaris asing di telinga saya dan Anda. Tadinya pun saya mengira dia seorang penulis baru dari Timur Tengah. Namun setelah saya membaca bukunya yang berjudul “Balthasar’s Odyssey-Nama Tuhan Yang Keseratus-Sebuah Novel” saya sedikit mengetahui siapa Amin Maalouf. Amin Maalouf adalah seorang mantan pemimpin harian terkemuka di Beirut “An-Nahar” dan editor “Jeune Afrique”. Sedangkan karya fiksi yang dilahirkannya dalam terjemahan bahasa inggris antara lain “Leo The African”, “The Rock Of Tanios” yang memenangkan Prix Goncourt, “Samarkand,” “The Garden Of Light”, dan “Ports Of Call”. Di antara karya nonfiksinya adalah kumpulan esai “On Identity” dan “The Crusades Through Arab Eyes”. Setelah berkenalan dengan gaya penceritaan Amin Maalouf saya tertarik untuk mencari dan membaca karya-karya nya yang lain. Tapi saya tidak akan menyinggung soal ini di sini.
            Kali ini saya ingin cerita sekelumit isi novel Balthasar’s Odyssey-Nama Tuhan yang Keseratus dan kaitannya dengan fenomena ramalan kiamat. Novel karya Amin Maalouf ini memang cerdas namun tidak berlebihan. Novel ini merekam perjalanan panjang Baldassare Embriaco seorang saudagar buku keturunan Genoa asal Gibelet, Libanon. Selama hampir dua tahun ia menjelajahi tiga benua dan mengelilingi nyaris separuh dunia yaitu Libanon, Maroko, Turki, Yunani, Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, Prancis, dan Italia demi sebuah buku berjudul “Nama Tuhan yang Keseratus” karya Mazandarani. Buku ini menjadi begitu penting dan menjadi incaran banyak orang lantaranm buku itu konon katanya memuat nama Tuhan yang keseratus, sebuah nama yang tersembunyi sebagai pelengkap 99 nama Tuhan yang lazim dikenal oleh umat muslim.  Di dalam  diskusi antara Baldassare Embriaco dengan Esfahani seorang yang mengaku sebagai Pangeran dari Persia, hal ihwal semangat menggebu-nggebu mencari buku bertajuk Nama Tuhan Yang Keseratus itu dikarenakan sejak datangnya agama Islam, para ulama telah berdebat mengenai satu ayat yang muncul tiga kali dalam istilah serupa di dalam Alquran dan terbuka terhadap berbagai pemaknaan. Esfahani mengutip, “Sabbihisma rabbika-a-l-a’la”(Q.S 87:1) yang bisa diterjemahkan sebagai “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” Menurut Esfahani kemenduaan muncul pada kenyataan dalam bahasa Arab mengenai sebutan “A-l-A’la”, “Yang Maha Tinggi”, bisa mengacu pada Tuhan ataupun nama-Nya. Dalam tafsiran pertama, ayat ini semata-mata anjuran untuk memuliakan nama Tuhan. Namun jika penafsiran kedua benar, maka ayat itu bermakna “Sucikanlah Tuhanmu dengan nama-Nya yang paling tinggi.”
            Dalam novel ini, Amin Maalouf tidak menjebakkan dirinya pada diskusi soal kemenduaan makna tersebut. Sebab memang ini sebuah novel, bukan sebuah buku yang merekam debat teologis. Amin Maalouf justru bercerita tentang ekspresi dan reaksi orang-orang yang hidup pada tahun 1666-1667 yang beranggapan bahwa dengan buku Nama Tuhan yang Keseratus maka orang yang memilikinya bisa selamat dari kiamat. Walapun saya bertanya-tanya, apatah gunanya selamat dari kiamat kalau hanya seorang saja di dunia ini? Hehehe bukankah akan sangat menyedihkan hidup di dunia seorangan wae?!
            Sebagaimana layaknya novel drama maka kisah ini pun tak luput dari cinta yang berliku, antara Baldassare Embriaco dan Marta, Baldassare Embriaco dan Bes, Baldassare Embriaco dan Giacominetta. Juga ada kisah benturan antar agama dan peradaban, renungan filosofis tentang kesejatian hidup manusia serta kronik sejarah yang kaya dengan latarbelakang dunia abad ke-17. Namun terlepas dari itu semua ada yang menarik hati saya karena terpajang sepanjang perjalanan membaca Balthasar’s Odyssey yaitu berita tentang kiamat desember 1666 dan bagaimana reaksi para pedagang sampai penguasa bahkan rohaniawan.
            Konon di tahun 1665 sudah banyak orang meramalkan bahwa 31 Desember 1666 adalah tahun kiamat. Dunia akan meredup. Banyak yang mencibir, namun banyak pula yang diam-diam percaya. Baldassare Embriaco awalnya tidak terlalu ambil pusing dengan persoalan kiamat jatuh kapan. Dia menjadi sedikit terusik tatkala keponakannya-Jaber serius menyelidiki berbagai macam dokumen yang terkait dengan ramalan tersebut. Sampai akhirnya mereka berlayar berkeliling dunia hanya untuk mencari buku yang bisa menyelamatkannya dari kiamat.
            Dalam perjalanan itu dia berkenalan dengan seorang kawan yang ternyata juga sedang mencari tahu keabsahan kabar soal kiamat itu. Dan di daerah lain, seorang rohaniawan mencemooh pemikiran bodoh semacam ini walapun jauh di dalam hatinya dia pun bertanya adakah kiamat tiba tanggal 31 Desember 1666. Sepanjang novel itu, Amin Maalouf menceritakan berbagai ekspresi dan reaksi dari mereka yang percaya, percaya tapi malu mengakui kalau percaya, atau menolak mentah-mentah ide ramalan kiamat itu. Namun lucunya di Genoa yang ramai oleh perdagangan dan kapal yang hilir mudik, ramalan soal kiamat itu tak ada gaungnya sama sekali. Seolah-olah orang Genoa benar-benar tidak peduli kiamat akan menjemput kapan. Mereka hanya peduli pada perdagangan damar wangi dan aneka rempah dan barang-barang dari Eropa ataupun Asia selain hal itu mereka peduli pada vernaccia yang memabukkan. Selain itu mereka juga taat menjalankan aturan agama dan gereja. Maka Genoa seolah-olah tetap berjibaku dengan uang, minuman, dan doa ketika dunia di sekitarnya sedang panik dengan ramalan kiamat tahun 1666.
            Dan benar saja ramalan itu hanya isapan jempol belaka dari seorang yang bernama Sabbatai Zevi. Dia adalah seorang Ratu Adil Palsu Yahudi yang memimpin gerakan mesianik terbesar dalam sejarah Yahudi. Ia lahir di Smyrna (sekarang disebut Izmir, Turki) dan kemudian ditahbiskan sebagai Hakkam (Rabi yang dianggap memiliki kearifan istimewa). Pada tahun 1665 ia dinyatakan sebagai “Al-Masih” oleh tokoh agama Karismatis yaitu Nathan dari Gaza. Penguasa Kesultanan Utsmaniyah memenjarakan Sabbatai pada tahun 1666 namun kemudian ia menyatakan masuk Islam untuk menghindari hukuman mati. Pada tanggal 1 Januari 1667 tidak terjadi suatu apapun dan Baldassare Embriaco siap menjalankan rencana demi rencana yang terbentang bagai karpet Persia di hadapannya.
            Rupa-rupanya sejak dulu boleh dikata manusia suka dengan semua berita atau ramalan terkait kiamat:

great fire of London
  • tahun 1533 Seorang warga Jerman bernama Michael Stifel meminta pengikutnya menjual seluruh harta mereka karena yakin hari akhir akan terjadi pada 3 Oktober 1533. Ia begitu yakin akan perhitungannya. Di hari yang telah ditentukan ia bersama pengikutnya naik ke sebuah bukit dengan alasan agar mudah diangkat ke surga. Ditunggu-tunggu kiamat tak kunjung datang. Stifel dan pengikutnya pun turun. Walau ramalannya terbukti gagal, Stifel tetap yakin kiamat segera datang. Ia akhirnya meminta dipenjara untuk perlindungan dari hari akhir. Ada-ada saja.
  • Tahun 1666
    Dalam tradisi Kristen, angka 666 dianggap sebagai angka setan. Maka, tak heran menjelang dan saat tahun itu tiba seluruh warga Eropa didera rasa termat cemas, jangan-jangan ini tahun terakhir mereka hidup di bumi. Apalagi setahun sebelumnya wabah penyakit menyapu Eropa menewaskan 100 ribu orang, seperlima warga London. Bencana itu membuat orang-orang makin khawatir kiamat sudah dekat. Hingga pada 2 September 1666 sebuah kebakaran besar melanda London. Kebakaran berlangsung selama tiga hari dan membakar lebih dari 13 ribu gedung dan puluhan ribu rumah. Namun akhirnya diketahui hanya 10 orang tewas dalam kebakaran, yang meskipun besar, bukanlah akhir dari dunia. Data inilah yang menjadi latar belakang novel Amin Maalouf.
  • Tahun 1844
    William Miller disebut majalah Time sebagai nabi palsu paling tenar. Pada 1840-an ia mulai berkhotbah kehidupan dunia sebentar lagi berakhir, Yesus akan kembali turun ke bumi, dan bumi bakal hancur antara tanggal 21 Maret 1843 hingga 21 Maret 1844. Ia menyampaikan khotbahnya dengan mengumpulkan orang di keramaian, mencetak poster dan tulisan. Sepanjang 1840 dan 1844 sebanyak 100 ribu orang termakan omongannya, menjual harta benda mereka dan pergi ke perbukitan menunggu kiamat datang. Saat tanggal yang ditetapkannya tak terjadi apa-apa, Miller mengubah ramalannya jadi 23 Oktober tahun yang sama. Hasilnya serupa. Kiamat tak mampir di hari itu.
  • Tahun 1914
    Perang Dunia pertama dimulai di tahun itu. Hal itu tak hanya membuat orang ketakutan dilanda perang, tapi was-was jangan-jangan ramalan pendiri majalah Watch Tower Charles Taze Russell tentang akhir dunia benar adanya. Russell meramalkan Yesus turun ke bumi pada 1914. Saat perang besar terjadi tahun itu, Russell menafsirkannnya sebagai pertanda kiamat akan datang. Sejarah membuktikan sebaliknya. Perang Dunia I berakhir 1918.
  • Tahun 1977
    Pada 28 Februari 1963, sebelum matahari terbenam, di saat langit Arizona, AS memperlihatkan gumpalan awan misterius nan cantik, pendeta William Branham menuju padang gurun mendaki bukit Sunset dan mengklaim bertemu 7 malaikat yang mengungkap 7 perisai di Kitab Revelation. Beberapa hari kemudian ia mengutarakan 7 khotbah di Jeffersonville, Indiana, selama 7 malam. Ia meramal Yesus akan turun ke bumi tahun 1977.Namun, ia tak melihat ramalannya ternyata gagal karena saat sedang menyetir di Texas pada Desember 1965, seorang pengemudi mabuk menabrak mobilnya. Di malam Natal atau 6 hari setelah insiden tabrakan, Branham meninggal.
  • Tahun 1988
    Pendeta Hal Linsey mengubah ramalan kiamatnya beberapa kali. Ia menulis buku Late Great Planet Earth yang jadi buku laris di tahun 1970-an. Di bukunya, ia meramal kiamat terjadi 31 Desember 1988. Ia mengutip ancaman bencana nuklir, komunisme Uni Soviet, dan kelahiran negara Israel sebagai tanda-tanda kiamat. Tentu kiamat tak terjadi tahun itu. Negara Uni Soviet malah bubar. Tapi Linsey tak lelah meramal bahkan di tahun 1990-an dan 2000-an. Linsey kemudian tak hanya salah meramal, tapi lebih dari itu, ia membuat buku-buku ramalan kiamat jadi genre populer. Setelahnya banyak bermunculan buku sejenis. Salah satunya Edgar Whisenant yang menerbitkan buku pada 1988, mendukung ramalan Linsey, 88 Reasons Why Rapture Will Be in 1988 (88 Alasan Kiamat Bakal Terjadi Tahun 1988). Buku itu laku terjual 4,5 juta eksemplar.
  • Tahun 1993
    David Koresh mengunci diri beserta pengikut sektenya di sebuah kawasan peternakan di Waco, Texas, pada 1993. Ia meyakinkan pada pengikutnya kalau ia Yesus dan mereka semua harus bersiap menyambut kiamat yang segera datang. Saat pihak berwenang Texas bermaksud menggeledah tempat Koresh dan pengikutnya tinggal yang dinamai Mount Carmel Center, karena dicurigai ada penyiksaan terhadap anak-anak dan wanita plus senjata ilegal. Namun, Koresh dan pengikutnya melawan. Empat petugas tewas. Koresh tak mau menyerah. Selama 50 hari terjadi ketegangan di peternakan itu. Hingga, pada 19 April tahun itu, FBI akhirnya menyerbu peternakan. Lusinan orang tewas termasuk Koresh. 
  • Tahun 1994
    Pada 1992, Harold Camping menerbitkan buku berjudul 1994? Yang meramalkan kiamat bakal terjadi pertengahan September 1994. Ia bilang Yesus bakal turun ke bumi lalu kiamat datang. Camping mendasarkan ramalannya dari hitung-hitungannya pada angka-angka di Alkitab. Dari rumusan yang ia buat diperoleh angka itu. Tapi dunia tidak berakhir di tahun 1994. Begitu juga di tahun 1995 sewaktu ia merevisi hitungannya.
  • Tahun 1997
    Anggota sekte Pintu Surga yakin kehancuran bumi datang setelah komet Hale-Bopp lewat pada 1997. Mereka meyakini satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan bunuh diri sehingga arwah langsung diangkut oleh pesawat makhluk luar angkasa dan terbang di belakang ekor komet. Sebanyak 38 jasad pengikut aliran sesat itu ditemukan tak bernyawa di sebuah rumah di California pada Maret 1997.
  • Tahun 2000
    Perpindahan milenium pernah juga diramal jadi akhir dunia. Ada lusinan sekte sesat meramalkan kiamat bakal datang di pergantian 1000 tahun. Apalagi dengan adanya kekhawatiran sistem komputer bakal kacau di saat milenium berganti alias Y2K. Sistem penanggalan komputer yang hanya mengenal dua digit tahun akan mengacaukan sistem kerjanya—karena komputer akan membaca tahun 2000 sebagai tahun 1900. Nyatanya, tak terjadi kerusakan berarti. Padahal Carlos Roa, seorang kiper Argentina, sudah menolak perpanjangan kontrak dengan sebuah klub spanyol karena yakin hari akhir datang pada 1 Januari 2000.
  • Tahun 2011
    Harold Camping kembali di tahun 2011. Ia merevisi hitung-hitungannya tahun 1994 dulu menjadi 21 Mei 2011. Ketika tak terjadi kiamat di tanggal itu ia berdalih, “Hari penghakiman betul-betul terjadi, sayangnya tidak ada jiwa yang pantas untuk diselamatkan dan diangkat ke langit, jadi tak ada yang merasakan hari itu datang.” Lalu mengapa Camping juga tidak “diselamatkan”? Apakah ia temasuk orang-orang yang tak pantas diangkat ke langit? “Saya ditugasi untuk membawa 80 juta orang di dunia, termasuk para pengikut saya untuk dikumpulkan di Cayman Island saat dunia berakhir bulan Oktober nanti.” Oktober? Kok mundur lagi? Reuters mencatat, menurut teori pendiri radio Family Radio Network ini, 21 Mei hanya awal serangkaian peristiwa besar yang mengacu pada bencana dahsyat yang disebut kiamat. Bencana besar yang menghancurkan dunia beserta isinya itu diprediksi akan terjadi 21 Oktober. Nyatanya tak terjadi apa-apa di tanggal itu.

Tanggal 21 Desember 2012, sejak dua tahun terakhir, tanggal itu jadi tenar lantaran dikatakan di tanggal itu dunia yang kita tinggali berakhir alias kiamat. Awalnya adalah bangsa kuno Maya di Amerika Tengah yang membuat perhitungan tahun kalender yang berakhir di tahun 2012. Tepatnya, kalender Maya hanya sampai menyebut tanggal 21 Desember 2012. Banyak menafsirkan dunia akan kiamat di tanggal itu.Namun tanggal 22 Desember 2012, saya ingat sekali, hari itu panas, matahari sangat cerah, semua begitu indah karena sosok pegunungan Dieng, Gunung Sumbing, dan Gunung Sindoro nampak. Dan selanjutnya hari berjalan sebagaimana mestinya. Yang juga membuat saya ingat adalah, hampir di setiap tempat saya mendengar orang menertawakan dan mencemooh ramalan kiamat yang gagal lagi. Diam-diam saya curiga jangan-jangan orang-orang yang menertawakan dan mencemooh ini adalah orang-orang yang dulunya percaya akan ramalan itu hehehe.
            Dan seperti kita lihat, tahun 2013 pun kita jelang hingga detik ini. Yah, di setiap masa selalu ada orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang yang mendapatkan wahyu ilahi dan menyampaikan tanggal pasti kiamat. Lalu tidak terjadi apapun setelahnya. Fenomena ini membuat saya melihat bahwa sebagian besar orang tertarik dengan kehidupan di masa yang akan datang ketimbang di masa kini. Sebagian besar orang lebih tertarik untuk bicara tentang kerajaan yang akan datang, kehidupan damai sejahtera di surga, keadilan ilahi yang bertahta di bumi dan serangkaian kejadian yang dianggap sebagai “clue” bagi datangnya kiamat.
            Dengan demikian, seolah-olah orang-orang ini kakinya di masa kini namun leher dan kepalanya ditarik ke depan menjauhi kakinya. Sederhananya, orang tidak hidup di masa kini namun di masa yang akan datang. Teringat petuah seorang bikhu di Vihara Mendut yang mengatakan bahwa manusia senang jadi pendulum yang bergerak ke depan ke belakang namun tidak pernah diam di tempatnya. Manusia senang membuang waktu dan energi hidup di masa lalu, dan senang berangan-angan tentang masa depan namun mengabaikan berbagai macam kesempatan dan pengalaman di masa kini.
            Sebagian besar orang yang meyakini ramalan-ramalan ompong kiamat ini pada akhirnya menjelma menjadi orang yang memiliki spritualitas egosentris. Dia menjual semua barangnya, karena toh kiamat kita semua terangkat jadi warga sorga yang jalannya dari emas, jadi ngapain bawa-bawa barang. Ada pula yang mengemas barang-barangnya karena kata pemimpin spritual nya yang diangkat ke sorga bukan Cuma orang tapi juga barang. Dan rata-rata mereka akan hidup eksklusif hanya dengan komunitasnya saja demi menjahui dunia. Kehidupan semacam ini diyakini dapat menjaga kesucian diri sampai kiamat tiba.
            Terlepas dari perkara benar dan tidak benar, saya sendiri berpendapat bahwa sampai kapanpun manusia tidak mampu memahami dan memprediksi  kapan kiamat tiba. Bahkan kalau mau “sok biblis” di Alkitab Anak Manusia juga tidak menyatakan diri-Nya tahu. Dan bagi saya ketimbang hidup ini disibukkan dengan persoalan “KAPAN KIAMAT?” mending kita hidup sepenuhnya di saat ini. Sebab jalan yang kita pilih tidak bisa kita ulangi lagi. Dan begitulah yang akhirnya diinsyafi Baldassare Embriaco seorang saudagar buku dari Gibelet, Lebanon yang mulai melepaskan diri dari kekhawatiran soal kiamat menjadi orang yang mensyukuri segala hal yang terjadi dalam hidupnya kini dan di sini.
            Hidup sepenuhnya adalah hidup yang menerima duka seikhlas suka. Hidup sepenuhnya adalah hidup yang mengutamakan kasih, keadilan, kejujuran, dll sebagai sebuah gaya hidup. Saya membayangkan jika semua orang menjalannkan sebagai sebuah gaya hidup maka persoalan Kerajaan Allah yang Memerintah di Dunia bukan lagi perkara di atas awang-awang namun perkara bagaimana saya dan Anda menyatakannya selama kita masih di dunia. Jadi nggak usah nunggu di surga buat ngarasain Kerajaan Allah, kalau kita mengupayakan nilai-nilai Kerajaan Allah maka kita membiarkan Allah yang merajai dunia.
            Jadi gimana, kiamat kapan? Besok? Bulan depan? Tahun depan? Hahahahah kapan saja boleh!






Y. Defrita Rufikasari
Juni 2013

Selasa, 04 Juni 2013

Ngerehreh ati?

Beberapa saat yang lalu teman saya ngirim short message service. Dalam short message service itu dia bilang bahwa tulus is nothing to lose seperti hanya menghibur diri, ngerehreh awake dhewe. Dia berargumen bahwa berbuat tulus akan ada kemungkinan kita justru lose lebih banyak dari yang kita kira. tapi kita tahu bahwa yang lakoni ini sudah bener "tsaddiq" dan sudah "dikaios". Lanjutnya, "Siapa sih yang engga makan hati kalao setiap perbuatan baiknya selalu dikatakan ada udang di balik batu. Respon positif yang pertama terhadap hal ini menunjukkan seberapa tulus diri kita dan menyingkap motif kita sebenarnya.
Memang saya dan dia pernah sama-sama harus membawakan tema Tulus Is Nothing To Lose yang sempet bikin saya ngacak-ngacak Alkitab dan berbagai macam buku yang terkait. Namun sekali lagi, menuliskan atau lebih tepatnya menguraikan topik itu terkadang lebih mudah ketimbang melakoninya.
Selang beberapa mingu, ya mungkin sekitar 2 mingguan saya "kepentok" dengan yang namanya Tulus Is Nothing To Lose. Singkat cerita saya bertemu dengan orang-orang yang sebenarnya awalnya digadang-gadang sebuah kerja sama. Dalam beberapa kali tatap muka saya mengusulkan ide-ide dan pendapat saya kadang juga usulan solusi yang tepat guna. Namun suatu hari, kerjasama yang digadang-gadang itu bubar jalan. Di sana saya merenungkan short message service dari teman saya itu. Karena tanpa dinyana diapun mengaitkannya dengan tema ketulusan. Ya mungkin ketika peristiwa itu terjadi kalimat tulus is nothing to lose cuma ngerehreh hati aja. Tapi lama-lama saya mikir, "Yo wis lah, ndak ada yang rugi. anggap saja ide-ide dan usulan solusi itu sebagai bentuk lain dari sedekah." Apakah ini tandanya saya masih ngerereh hati saya? heheheheh nampaknya tidak. karena ketika kejadian serupa terulang kembali saya disadarkan bahwa memang setulus apapun kita, tak berarti kita kebal terhadap kecurangan yang dilakukan oleh orang lain... namun dengan kalimat tulus is nothing to lose saya merasa langkah saya makin ringan...sekalipun sudah teramat sering dicurangi orang lain...
persoalan tulus is nothing to lose bagi saya bukan cuma persoalan bagaimana reaksi kita ketika dicurangi orang lain atau ketika dituduh punya niat jelek. Namun juga dalam menjalani hidup ini sikap tulus is nothing to lose itu sesungguhnya meringankan langkah saya. Saya jadi teringat sebuah kisah yang menceritakan seorang lumpuh yang diminta mengangkat tilamnya dan berjalan oleh seorang pria nan bijak bestari. Dia mengangkat tilamnya dan berjalan. Bagi saya tindakan si lumpuh ini bukan sekedar tindakan iman. Karena saya pun ndak tahu kadar keimanannya, dan kalaupun perkara kadar iman itu ada atau bisa diperdebatkan. Yang saya pikirkan ketika membaca kisah itu adalah, dia melakukannya karena semata-mata nothing to lose kok. Kalaupun ntar dia ngangkat tilamnya dan ambruk lagi, yo wis, kan hari-hari dia juga udah lumpuh. Kalau ternyata bisa, ya syukur kepada Allah.
Begitu juga dalam hidup saya. Kalau saya gak jadi kerjasama dengan si A ya sudah ndak apa-apa, kalaupun sebelum-belumnya sudah banyak ide-ide dan usulan konstruktif yang saya gelontorkan. Dan sekalipun orang-orang di sekitar saya geram juga menganggap saya rugi. Juga kalau saya tidak jadi kerjasama dengan si B karena ketidakjelasan pihak B sementara waktu, energi dan pikiran sudah tercurah di sana...ya sudah ndak apa-apa...
Mungkin sekilas, sikap saya ini bisa diartikan sebagai sikap pasrah nyaris mendekati bodoh. Tapi dengan sikap tulus is nothing to lose saya ngrasa lebih enteng ngejalani hidup.. nggak mikir saya untung apa nggak setelah 2 kali gagal kerjasama dengan pihak lain. saya enggak mikir untung atau rugi kalau saya menggelontorkan ide, waktu dan energi bagi mereka...bagi saya kalau "tilam" itu gak jadi diangkat ya udah ndak apa-apa...ndak usah mikir ruginya...toh hari-hari juga gitu....

jadi, tulus is nothing to lose bukan cuman perkara ngerehreh ati saya aja, tapi ngentengke dalan saya juga hehehehehehe....






Yohana Defrita Rufikasari
awal juni 2013

Kamis, 23 Mei 2013

Nyalakan Lilin Harapan Bagi MIKA

Kira-kira dua tahun yang lalu secara berkelakar saya saya bilang "Dicari orang Samaria yang baik hati" Pertanyaan ini muncul ketika ada kecelakaan di depan GKI Maulana Yusuf Bandung. Saya dan teman saya menolong seorang ibu yng terlempar ke taman pinggir jalan milik rumah mewah. Setelah kami membawanya ke gereja dan merawatnya semampu kami, ibu dan bapak yang menjadi korban kecelakaan ini bisa segera pulang ke rumah. Ketika itu banyak orang yang berjalan melewati si ibu yang tergeletak di jalan, tapi tidak ada yang menghentikan langkahnya, juga banyak pengendara motor atau mobil yang tidak menepi atau mengurangi kecepatan. 
Sebetulnya teks orang Samaria yg baik hati ini teks yang sangat familier di benak kita. Bayangkan saja sejak sekolah minggu kita sudah dengar kisah orang Samaria yang baik hati ini. Saya teringat seseorang yang pernah berkata, "Kami itu sudah tahu, ndak perlu lagi dikasih tahu..." perkataannya terkait dengan kotbah-kotbah yang disampaikan di mimbar gereja setiap hari minggu yang menurutnya jemaat itu sudah tahu. Secara berkelakar saya menimpali, "Lha kalau sudah tahu kenapa tidak dilakukan supaya pendeta dan pengkotbah itu bisa segera mengkotbahkan hal lain...ha ha ha". Kami pun terbahak bersama.
Namun di balik kelakar itu ada hal yang membuat kami tercenung bersama, ya, sudah ada jutaan tema kotbah disampaikan, sudah ada banyak kali kita membaca Alkitab dan buku-buku lainnya. Tetapi sebanyak itu pula kita mengalami kesulitan mengaplikasikannya bahkan kesulitan mempergunakan kesempatan untuk berbuat baik. :)
Beberapa waktu lalu di Wonosobo, dengan cara yang tidak tahu bagaimana mulanya saya bisa terlibat dengan jalan hidup seorang anak bernama Mikael Gemma Widyaputra. Seorang anak yang hari ini tepat berusia 11 tahun. Saat ini Mika tercatat sebagai murid kelas 5 SD Katolik Pius Wonosobo, Jawa Tengah. Saya belum bertemu "face to face" dengan Mika, hanya kontak via BBM dengan Paman Mika yang bernama Pak Moko.
Photo: Foto terbaru dr Mika Чǧ dikirim olh Om nya Mika...kondisinya sudah stabil (⌒˛⌒)
Mikael Gemma Widyaputra
Mika anak ke-2 dari 2 bersaudara. Kakaknya bernama Marcelinus sekolah di SMP Katolik Bhakti Mulya Wonosobo. Sampai di sini mungkin pembaca bertanya-tanya, "apa specialnya?" Nah, bersabarlah, sebab yang special itu adalah seluruh proses yang telah, masih dan akan dijalani Mika.
Mika sejak kecil sudah mengalai kelainan ginjal bawaan dari lahir. Namun waktu itu dokter mendiagnosa darah Mika keracunan. Mulailah Mika menjalani serangkaian pengobatan dan kemudian tahun 2008 diketahui bahwa fungsi ginjal Mika sudah mengalami penurunan, namun ginjal yang lainnya masih baik kondisinya. Bagaimanapun akhirnya Mika dirawat inap di RSUD. Dr. Sardjito Yogyakarta, sebab satu-satunya dokter spesialis ginjal anak hanya ada di RSUD Dr. Sardjito Yogyakarta.
Photo: CAPD Чǧ akan dipasang  [d_̅i_̅] tubuh Mika sbg pengganti fungsi ginjalnya..
CAPD
Tahun 2010, kembali fungsi Mika mengalami penurunan. Saat itu sudah disarankan agar segera dipasang alat pengganti fungsi ginjal yaitu CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis ). Sebenarnya ada dua alat CAPD dan APD (Automated Peritoneal Dialysis), namun jarang digunakan di Indonesia karena biayanya 100-150 juta rupiah. Dengan CAPD, penderita cukup melakukan kontrol 1 kali dalam sebulan ke rumah sakit. Pola kerja cuci darahnya, kateter disambungkan dengan titanium adapter yang akan mengalirkan cairan dextrose. Cairan inilah yang berfungsi untuk menarik racun dari dalam tubuh. Proses pengaliran cairan ini hanya membutuhkan waktu 10 menit. Dalam sehari dilakukan sebanyak 3-4 kali. Jaraknya sekitar 4 sampai 6 jam dari satu pencucian dengan pencucian berikutnya. Kalau transfer set nya bisa diganti 6 bulan sekali. Rumah sakit biasanya  menyediakan 4 jenis konsentrasi dextrose. Tergantung berapa banyak cairan yang akan dikeluarkan. Konsentrasi cairan itu, ada yang 1,5 persen, 2,5 persen, 4,25 persen dan 7,5 persen. Khusus yang konsentrasi 7,5 persen dikenal dengan ecodextrin, yang baru digunakan di Indonesia dalam 2 tahun terakhir. Biayanya, dalam sebulan dengan estimasi 4 kali ganti kantong mencapai Rp5,5 juta. Dengan CAPD, Mika tidak perlu bolak-balik cuci darah. Namun karena ketiadaan dana, maka Mika tidak menggunakan CAPD tahun 2010.
Tahun 2013, Mika kembali ambruk.  Tanggal 9 Mei 2013 dengan menggunakan mobil pribadi kakak saya (Bpk. F.X. Basuki Rachmat)-Mika trauma dengan ambulans- berangkat ke RSUD Dr. Sardjito Yogyakarta. Di dalam mobil tersebut ada Mika, ibu Mika (Ibu Agustina Netty), Suster Asisi, dan seorang driver (Pak Wahyu) yang sudah diajari bagaimana harus memberikan oksigen dari tabung oksigen kepada Mika jika sesak napas menyerang Mika. Benar, dalam perjalanan ke Yogyakarta itulah Mika beberapakali sesak napas dan mobil harus berhenti karena Pak wahyu sibuk membantu Mika dan Suster Asisi menenangkan Ibu Agustina Netty.
Photo: Mika sudah tidak pakai ventilator...
Mika keluar dari ICU
Begitu tiba di RSUD Dr. Sardjito, Mika segera dirawat di IGD dan kemudian  malam harinya Mika demam dan kejang-kejang dan kemudian tidak sadarkan diri sehingga dipindahkan ke ruang ICU sampai tanggal 12 Mei 2013. Sore harinya Mika sudah sadar namun masih harus memakai ventrilator sampai tanggal 14 Mei 2013. Kemudian ventrilator dilepas setelah Mika sukses belajar bernafas. Sampai di sini saya tercenung, betapa di dunia ini ada banyak orang yang bahkan untuk bernafas saja harus belajar matia-matian agar tidak selalu bergantung pada ventrilator. Sedangkan di dunia yang sama ini masih ada banyak orang yang tidak pernah menghargai anugerah Tuhan berupa kemampuan bernafas tanpa susah payah. Bernafas seperti layaknya manusia pada umumnya adalah hal yang memerlukan perjuangan bagi seorang anak seperti Mika.
Setelah ventrilator dilepas, Mika kembali demam karena tenggorokkannya radang. Maklum saja selama di ICU sudah banyak selang yang hilir mudik di tenggorokan Mika yang notabene menyebabkan radang tenggorokan. Kemudian kondisinya membaik sehingga dilakukan cuci darah. Sampai saat ini sudah 3x cuci darah. Dan Mika pun masuk ke ruang perawatan biasa, tidak lagi di ICU.
Photo: Mika demam lagi 40,3 C...kemarin sudah operasi saluran kencing, tinggal satu operasi CAPD.
mika demam tinggi 41 C tanggal 23 Mei 2013
Tanggal 21 Mei 2013 yang lalu Mika sudah menjalani operasi pembersihan saluran kencing. Pada kasus orang normal, urine keluar tuntas baru kemudian katup menutup kembali sedangkan pada Mika, urine belum tuntas, katup sudah menutup.Namun setelah diakukan operasi pembersihan saluran kencing, dokter menemukan bahwa otot-otot katup di saluran kencing Mika sangat lemah, tidak bisa menutup membuka secara otomatis. Selain itu kondisi Mika sangat tidak stabil, kemarin saja demam sampai 41C. Jika kondisinya stabil Mika akan segera melakukan operasi pemasangan CAPD pada tubuhnya.
Sampai di sini pembaca barangkali bertanya-tanya, "Ini bukan sesuatu yang murah, lalu biayanya dari mana?"
Kalau dua tahu yang lalu secara berkelakar saya bertanya-tanya, "Dicari Orang Samaria Yang Baik Hati" maka sekarang saya menemukan bukan hanya satu tapi banyak! ha ha ha :)
Orang-orang ini belum pernah mengenal Mika secara langsung, tidak tahu latar belakang keluarganya dan kondisinya sekarang, namun orang-orang ini memberikan HARAPAN bagi Mika. Kalau banyak orang mengutuki kegelapan, maka orang-orang ini sudah menyalakan sebatang demi sebatang lilin bagi Mika dan keluarganya. Bayangkan saja dalam tempo dua minggu dana yang terkumpul bagi Mika sudah 43 juta rupiah yang sebagian dananya sudah dibayarkan kepada pihak RSUD Dr.Sardjito Yogyakarta yang sangat kooperatif bahkan sangat pastoral bagi saya, karena mereka sama sekali tidak menyinggung soal dana dan tenggat pelunasan biaya inap, obat-obatan, operasi, dan dokter. Bahkan dr. Pungki yang menangani Mika tidak mempermasalahkan apakah Mika akan dirawat tanpa jamkesmas atau dengan jamkesmas sebab bagi dr. Pungki menolong Mika adalah prioritas, biaya nomor kesekian. Bagi saya, pihak-pihak rumah sakit yang memiliki prinsip dan perilaku seperti inilah yang menolong pasien dan keluarga pasien untuk hanya fokus pada kesembuhan. Sebab sudah menjadi "ajaran" bahwa ORANG MISKIN DILARANG SAKIT, karena biaya berobat yang kelewat mahal dan kadangkala (tidak semua tentu saja) oknum yang ada di rumah sakit tidak mampu melihat situasi dan kondisi seseorang namun hanya berdasarkan aturan administrasi belaka bahwa si A harus bayar sekian juta atau keluar dari rumah sakit kalau tidak bisa membayar.
Selain banyak orang-orang Samaria dari berbagai macam usia, latar belakang pendidikan, agama, suku yang berbeda yang menolong Mika dengan segala kemampuan yang ada dan yang bisa mereka bagikan untuk Mika, juga ada orang-orang yang (bisa dimaklumi sebenarnya) mencurigai bahwa ini sebentuk penipuan. Jelas upaya memperjelas ini membutuhkan kesabaran dan energi ekstra. Namun bagaimanapun juga di dunia  ini sudah terbangun tembok-tembok prasangka yang dapat membuat orang dengan nada interogatif dan sinis menutup pintu rapat-rapat. Kalau semakin banyak orang yan membangun "tembok" semacam ini maka dunia seketika menjelma menjadi buku kotak-kotak milik anak SD yang belajar matematika. Semuanya pun dipandang kotak-kotak. Menolong pun dilihat kotaknya dulu alias ada syarat dan ketentuan yang berlaku.
Maka kehadiran orang-orang yang tak dikenal Mika yang menolong Mika ini adalah mereka yang MERUNTUHKAN tembok prasangka, tembok keyakinan, tembok status sosial dll. Dan mereka membangun jembatan sehingga dapat menggapai dan menggegam Mika dengan dukungan doa dan dana yang mereka berikan bagi Mika. Saya ingat sebuah ujaran yang berkata demikian:
Make me a channel of blessing today
make me a channel of blessing, i pray
my life possessing
my service blessing
make me a channel of blessing today...
(smyth)
GOD GIVES US ALL WE NEED SO WE CAN GIVE TO OTHERS IN THEIR NEED
Sampai saat ini dana yang terkumpul setelah dikurangi biayai pembayaran rumah sakit tahap 1 tersisa 20 juta. Dan jelas, sekalipun jamskesmas sedang dalam proses diurus, Mika tetap membutuhkan uluran tangan Anda para pembaca budiman yang dapat Anda berikan melalui no.rek. BANK MANDIRI 136-00-1114059 a.n. Ibu Dewi Rosdiana (0857 434 20904) atau no.rek. BANK BCA  2390254701 a.n. Ibu Dewi Rosdiana. Ibu Agustina Netty, ibunda Mika memang punya no rekening, namun bisakah Anda bayangkan dalam kondisi menjaga anaknya yang kondisinya sangat tidak stabil, beliau sebentar-bentar harus melihat rekening dan mengangkat telepon demi meladeni pertanyaan seputar putranya?!..
Photo: Dari kiri-kanan (dr kiri anda): Bpk.F.X.Basuki Rachmat,suster kepala SD Katolik Pius Wonosobo, suster asisi, ϑȁƞ Ibu Dewi Rosdiana...(⌒˛⌒)
dari KI-KA: Bpk. F.X. Basuki Rachmat, Suster Kepala SD Katolik Pius, Suster Asisi, dan Ibu Dewi Rosdiana bergambar di depan BIARA Susteran PBHK jalan Pemuda 14 Wonosobo (20 Mei 2013)
jadi, jika Anda, pembaca budiman sangsi/curiga/tidak percaya, silahkan menghubungi Suster Asisi 0821 364 23268 atau Bpk. F.X. Basuki Rachmat 0812 277 8543.

Nyalakan lilin bagi mereka yang redup asanya...
nyalakan lilin bagi mereka yang beku hatinya...
nyalakan lilin bagi mereka yang resah jiwanya...
nyalakan lilin bagi sesamamu....


Wonosobo, 23 Mei 2013
Yohana Defrita Rufikasari, S.Si.Teo.