Senin, 02 Mei 2011

HarPenNas...

Kalenderku bilang hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional.

Sejak pagi mula, ku lihat bocah-bocah berseragam merah putih hilir mudik tergesa-gesa.

Mereka tak ingin melewatkan upacara rutin yang istimewa karena sekarang hari Pendidikan Nasional.

Yang berseragam biru-putih da abu-abu putih pun turut tergesa tak inggin tertinggal.

Para guru dan dosen yang sudah lama tidak upacara kini bersiap sedia.

Ah..sibuk nian ku lihat mereka merayakan hari Pendidikan Nasional.

Kau tunggu saja matahari geser ke tengah dan nyalakan kotak ajaib itu

Kau akan menerima informasi dari seluruh sudut negeri ini

melaporkan acara perayaan dan upacara hari pendidikan nasional.

sangat seremonial...

tapi pernahkah kita berhenti sejenak dari acara baris-berbaris dalam upacara itu..

pernahkah kita hentikan sejenak pidato lawas yang diulang-ulang itu

pernahkan kita berhenti dari lomba-lomba itu...

dan duduk di sini bersama si Tono yang saban hari memandang mereka wara wiri dengan seragam sekolah

berselempangkan tas keren dan tak jarang diangkut sopir...

sementara di pundaknya hanya selempang kotak semir sepatu dan baju kusam sedekah dermawan...

duduk di sini bersama si Siti yang harus berhati-hati belajar di kelas yang hampir roboh..

atap doyong ke kanan...

tembok doyong ke kiri...

bangku reot dan meja lapuk

jendela dan pintu tanpa daun...

duduklah bersama dengan si Banu yang setiap pagi berangkat jam 4 pagi...

menyeberangi sungai...

berjalan belasan kilometer

untuk sesuatu yang disebut pendidikan!

duduklah di sini bersama dengan si Ratih yang hanya bermain di teras rumah...

semenjak SPP menunggak dan perekonomiannya lemah...

duduklah di sini bersama si Maisaroh yang harus mengayuh sepeda bersaing dengan truk dan tronton besar di porong sana...

demi merubah nasib dan menuntut keadilan...

Mereka tidak butuh absensi upacara mu!

Mereka tidak butuh pidato-pidato mu yang mencantumkan keberhasilan mu membangun pendidikan di negeri ini!

Mereka tidak butuh ekspresi keprihatiananmu yang membuat ku mual dan jijik!!

Tanyakan pada hati nuranimu...

apa makna seremonial hari pendidikan nasional

jika masih ada banyak Tono, Siti, Banu, Ratih dan Maisaroh di seluruh penjuru Indonesia?

untuk apa upacara dan lomba-lomba serta pidato rutin?

jika ternyata pendidikan nasional kita tidak bisa dirasakan oleh semua anak!!!

jika ternyata orang miskin di Indonesia dilarang sekolah!!!!!

ini fakta menyakitkan yang sudah dan akan ditelan  jutaan anak di Indonesia...

dan apa yang kau buat????? apa yang kita buat???

hati nurani ku menuduh  tajam...

 

selamat merenungkan makna hari pendidikan nasional dengan cermin sosial yang terang benderang...

Education is not the filling a bucket but lighting of a fire-William Butler Yeats(1865-1939).

 

 

 

Darmo Satelit, 02 Mei 2011

Y. Defrita R.

Rabu, 27 April 2011

Di depan tempat cuci piring, aku mencuci dan merenung...

Kotak ajaib bernama televisi sudah lama menayangkan sajian khas berselera untuk para ibu rumah tangga yaitu Menu Sinetron dengan berbagai macam bumbu, variasi dan toping. Tapi sejatinya bahan dasarnya sama yaitu menampilkan sesuatu yang tidak sepenuhnya real bahkan ada yang lantang mengatakan bahwa itu semua hanyalah hipereralitas. Konflik yang dijual sejak dari episode pertama sampai entah kapan berakhirnya adalah konflik yang kadangkala over exposed. Sosok para pemainnya pun dengan gamblang dibedakan hitam dan putihnya. Ada tokoh yang hobi teriak, membentak, selalu dipenuhi ide-ide jahat dan keji, macam tidak ada perikemanusiaannya. Ada pula tokoh yang sungguh malang nasibnya karena sejak dari awal episode selalu menangis (saya heran kok ndak capek ya nangis terus), dihina, ditipu, dijebak, dianiaya dan seterusnya. Jarang ada sinetron yang mampu menampilkan karakter yang tidak murni hitam juga tidak sepenuhnya putih. Barangkali memang lebih mudah mengolah dan menampilkan yang ekstrem sekalian ketimbang yang tanggung.

Malam ini sewaktu saya makan, televisi sedang menampilkan adegan sebuah sinetron. Tenang bukan saya yang menonton. Saya yang sedang makan cukup takjub mendengar gaya bicara khas pemain sinetron. Lebih takjub lagi menyaksikan para pemirsa yang setiawan dan setiawati menonton adegan demi adegan. Dan menjadi sangat takjub tatkala adegan-adegan tersebut memancing emosi para pemirsa. Yah, sinetron yang namanya nama bunga, nama karakter sikap, nama sifat, telah berhasil meyedot perhatian pemirsa (tentu tidak semua). Sambil mencuci piring 1 buah, gelas 1 buah, sendok 1 buah saya termenung (tentu saja sambil menyabuni piring, gelas dan sendok). Saya membandingkan karakter-karakter yang ditampilkan di sinetron dengan karakter-karakter manusia yang saya jumpai dalam keseharian saya. Jujur saja, saya adalah orang yang suka mengamati. Mengamati  orang adalah kegiatan yang sangat menarik. Saya betah duduk berjam-jam hanya untuk mengamat-amati cara orang berinteraksi dengan orang lain, mengamati gesture tubuh orang lain ketika mengucapkan kalimat tertentu, ekspresi wajah, intonasi suara dan tanpa mereka sadari, mereka yang saya amati itu sudah mentransferkan begitu banyak informasi kepada saya tanpa mereka sadari. Informasi itu saya pakai nanti ketika saya harus berinteraksi dengan orang-orang yang sudah saya amati itu tadi. Dan menurut pengalaman saya, ini memudahkan saya untuk menjalin keakraban dengan mereka, dan relasi atau kekerabatan itu pun tercipta. Balik lagi ke soal permenungan di depan tempat cuci piring.

"Ehm..enak ya kalau karakter-karakter orang di sekitar ku itu gampang di tebak, jelas hitam dan putihnya." begitulah dialog pertama saya dengan diri saya yang lain. "Iya lho...kalau dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang kita jumpai itu ndak murni hitam atau sepenuhnya putih..tapi ada juga yang abu-abu...ya ndak jahat ya ndak baik-baik amat..." Walah, yang begini ini yang runyam...ya ndak jahat ya ndak baik..nah lo..ni orang berdiri di mana yak. Begitulah rentetan gerutu saya disaksikan piring, gelas, sendok, garpu, penggorengan dan panci yang diam membisu.  Kalau saya berhadapan dengan mereka yang karakternya jelas hitam...barangkali konfrontasi terbuka bisa saja meletus dan dicetuskan. Atau setidaknya saya bisa menciptakan radius aman dengan orang itu. Begitu juga kalau saya berhadapan dengan orang yang karakternya putih, bisa dengan terang benderang hatinya yang baik itu saya saksikan. Tapi ini abu-abu...ya ndak jahat-jahat banget sich...tapi juga ndak baik-baik amat! ckckckckckc...

Tapi sebetulnya setiap kita ini punya grey area. Area dimana kita kadang ndak jahat-jahat banget sama orang lain, tapi ya tetep ada jahatnya walaupun ndak selalu karena masih ada baiknya...begitu sebaliknya. Kalau mau jujur manusia yang paling baik sekalipun...paling putih sekalipun tetap ada grey area-nya. Sebaik-baiknya hati saya, masih ada grey area-nya...dan sejahat-jahatnya saya, masih ada grey area yang menampilkan seberkas kebaikan. Sebaik-baiknya saya, saya masih punya sifat buruk (ndak cuman punya tapi mungkin banyak hehehehe)...dan seburuk-buruknya sifat saya, masih ada baiknya. Begitu juga dengan Anda...dengan kita semua. Sinetron menampilkan sesuatu yang tidak real yaitu karakter grey area yang tidak ditampilkan, sehingga kita hanya menyaksinya indahnya dunia kalau karakter setiap orang itu jelas. Jelas jahatnya dan jelas baiknya. Ada lakon pahlawan yang baiknya minta ampun dan lakon penjahat yang kejinya luar biasa. Tetapi syukur kepada Allah, bahwa narasi hidup saya bukanlah sinetron murahan. Allah menuliskan alur kisah yang menarik dan selalu penuh kejutan. Allah menciptakan karakter-karakter pemain yang tidak sepenuhnya berifat baik, dan tidak sepenuhnya bersifat jahat, sehingga hidup kita indah, berwarna, dan tidak murahan.

Dan akhirnya sambil meletakkan piring, sendok dan gelas, saya melirik sinetron itu dan tersenyum sambil berbisik, "Terimakasih Tuhan untuk orang-orang yang memiliki "grey area" yang kau tempatkan di sekitarku...ini pasti akan menjadi narasi yang indah...terimakasih bahwa seburuk-buruknya aku, masih ada yang baik dalam diriku dan demikian sebaliknya. amin"

 

 

 

 

Y. Defrita R.

Senin, 25 April 2011

Belajar dari ceker ayam

Ceker ayam?!?! Dua atau tiga kaki ayam bersemayam di dasar panci sop. Warnanya pucat dengan guratan hitam di sekitar kaki sampai mendekati kukunya. Uuuuhh sangat menjijikan, begitu komentar saya. Tetapi adik tingkat saya di perguruan tinggi-Lydia dan kakak tingkat saya-Nunik, amat sangat menyukai si pucat berjari empat itu. Dan setiap kali sop dihidangkan, mereka akan "memancing" ceker ayam. Ceker itu akan bertengger di piring mereka, sampai mereka selesai menghabiskan nasi dan lauk yang lain lalu mereka akan mengeksekusi ceker ayam itu dengan ekspresi penuh kenikmatan sementara saya "eneg" melihat ceker ayam itu. Di dunia ini, ada orang-orang yang sealiran dengan Lydia dan Nunik yang sama-sama suka makan ceker ayam, sementara ada pula yang sealiran dengan saya-anti ceker ayam. Di Amerika dan Eropa, ceker ayam adalah bagian tubuh ayam yang dibuang bersamaan dengan kepala, tunggir alias brutu, usus, hati, dan segala macam perkakas di dalam perut ayam. Mereka hanya mengkonsumi dada, paha dan sayap saja. Sedangkan kepala, ceker, dan jeroan ayam itu mereka olah untuk menjadi pakan ternak. Jadi ceker ayam dan teman2nya itu tidak dikonsumsi manusia. Di Asia, setahu saya hanya Korea yang juga ikut menganggap ceker ayam sebagai limbah ayam potong yang tidak layak dikonsumsi oleh manusia.

Sore ini sebelum berangkat rehat, saya menyempatkan diri membaca satu bagian dari buku yang baru saja saya beli yaitu "Selamat Berkerabat". Di salah satu bab-nya, Pak Andar menceritakan bahwa di Korea, mereka bisa makan ceker ayam dengan gratis karena itu sebenarnya sudah dibuang. Jadilah Pak Andar dan ke-7 orang teman kuliahnya dari berbagai macam negara itu saban hari ke pasar kaget di dekat asrama mereka. Di sana tujuan mereka selain membeli tahu dan sayur mereka juga selalu menuju ke tempat penjagalan ayam. Di sana ada beberapa ember besar berisi kaki ayam. Mereka diijinkan untuk mengambilnya dan tak perlu bayar. Penjual ayam senang karena tak perlu membuang limbah ceker ayam itu sekaligus heran dan barangkali rada jijik melihat ulah ke-8 mahasiswa internasional ini yang rajin meminta ceker ayam. Ceker ayam adalah satu-satunya sumber protein hewani yang mereka sanggup beli, maklumlah biaya hidup di Korea tinggi, sehingga mereka harus pandai atur uang biar bisa beli buku dan nonton bioskop.

Sesampainya di asrama, mahasiswa-mahasiswa internasional ini berjuang membersihkan ceker ayam yang sangat kotor itu. Mereka mengguyur sendi kuku ceker ayam itu dengan air panas lalu sendi kuku itu dibacoki dan dibuang. Lalu diguyur dibawah air kran yang sangat panas. Kemudian kulit luarnya dicopoti satu demi satu. Lalu dicuci lagi berkali-kali dengan air panas. Setelah bersih, barulah ceker ayam itu dirapikan dalam kantong-kantong plastik dan disimpan di dalam kulkas. Kulkas jumbo yang ada di asrama mereka pun penuh dengan ceker ayam. Pak Andar mengakui bahwa dia dan teman-temannya bukanlah para lelaki yang pandai memasak, namun keadaaan memaksa. Maka jadilah mereka yang sedang digembleng untuk menjadi dosen teologi berubah menjadi chef yang pandai bereksperimen dengan bahan baku ceker ayam. Ada yang masak sup ceker ayam, tim ceker ayam, tumis sawi ceker ayam dan lain-lain. Menurut Pak Andar, jangan bandingkan masakan para mahasiswa calon dosen teologi ini dengan kualitas depot..kalah jauh...tapi lumayan enak dan murah karena si ceker ayam kan gratis.

Well, ceker ayam itu dibuang oleh masyarakat di beberapa tempat. Tidak disukai, dianggap tidak bersih, menjijikan, jorok, tidak bergizi dan bahkan di beberapa kebudayaan di Indonesia, bahkan makan ceker ayam itu dianggap tabu, pamali. Ada yang bilang katanya tulisannya bisa jelek kayak ceker ayam (saya tidak suka makan ceker ayam, tapi kok tulisan tangan saya tetap jelek ya), ada yang bilang kalau suka makan ceker ayam, lama-lama kuku jarinya mirip ceker ayam (wah, salon manicure dan pedicure laris manis ini hehehehe...). Tapi ada juga mitos yang bilang kalau makan ceker ayam, maka kakinya kuat kayak ayam karena ayam gak pernah duduk, berdiri mulu. Apapun itu mitos, tabu dan pamali yang menyekitari si ceker ayam tetap saja ada orang-orang yang menganggapnya sebagai limbah.

Tapi ketika sebagian orang mencap ceker ayam sebagai limbah, ternyata masih ada orang-orang yang memanfaatkan limbah itu. Ada yang memanfaatkannya karena suka, karena desakan ekonomis, dan karena kepepet tidak ada sumber protein hewani lainnya yang bisa dimakan. Terlepas dari apapun motivasinya seseorang memakan ceker ayam yang dianggap limbah, ada sesuatu yang menarik disini yaitu apa yang dianggap tak berarti...apa yang sudah dibuang oleh orang lain...apa yang dianggap buruk...apa yang dianggap tidak enak...ternyata bagi orang lain bisa dianggap berarti...berharga...baik..dan enak. Jadi persoalannya adalah perspektif kita dan hidup ini kan memang paradoks dan bersifat relatif atau nisbi.

Dari ceker ayam dan Pak Andar dkk., saya belajar untuk melihat hidup saya itu tidak dalam satu warna saja. Belajar untuk tidak menganggap pergumulan saya, penderitaan yang saya alami, dan kemampuan yang saya miliki sebagai sesuatu yang paling buruk, paling memberatkan. Bisa jadi saya menganggap diri tidak berarti...tidak bisa melakukan suatu hal yang orang lain bisa...tetapi jangan-jangan apa yang saya anggap sebagai sebuah kelemahan, di mata orang lain justru itu suatu kekuatan saya. Bisa jadi saya menganggap penderitaan yang saya alami itu sebagai yang paling hebat yang paling berat, tapi jangan-jangan orang lain justru menimba kekuatan dan semangat lewat penderitaan hidup yang saya jalani. So, hidup ini paradoks...hidup ini bersifat relatif...hidup ini punya banyak spektrum warna...jangan hanya menilai dan melihat dari satu perspektif dan kemudian kita terpuruk dibuatnya...apa yang kita anggap sebagai kelemahan, bisa jadi dianggap orang lain sebagai berkat... kuncinya terletak bagaimana cara kita memandang hidup ini...

Hidup ceker ayam--sorak sorai bagi para pecinta ceker ayam dimanapun Anda berada hehehehehe

 

 

Senin, 25 April 2011

Y. Defrita R.